Minggu, 30 Agustus 2015

Biru


Langit biru di luar sana
Cahaya matahari masuk melewati celah jendela
Aku tidak mau keluar
Bukan aku tidak mau terkena panas matahari
Tapi karena di luar maupun di dalam
Aku tetap tidak bisa menemukanmu
Aku lebih memilih di sini
Di kamar yang tidak luas
Namun cukup membuatku tenang
Aku lebih memilih berdiam di kamar
Menuliskan apa yang aku rasakan
Kepada dirimu yang telah hilang entah ke mana
Berharap angin akan dapat menerbangkan isi hatiku
Menyampaikannya kepadamu
Mengatakan bahwa aku masih di sini
Aku masih berharap kau akan datang
Menjemputku pergi bersamamu ke istana
Memulai semua yang aku impikan
Bagiku akan sangat indah bersamamu



Ojo Ngayem-Ngayem...


Di salah satu kamar asrama di pondok modern Yogyakarta ada beberapa santri yang sedang makan sore. Mereka sangat menikmati makan sore itu. Hari itu adalah hari Kamis, bagi banyak santri di pondok itu hari Senin dan Kamis adalah hari special menu ketring. Baik yang melaksanakan puasa sunnah atau tidak tetap sama. Okta mengingatkan temannya untuk tidak telat jama’ah.
“Eh, ayo ndang sholat, ngko ndak malah enthuk ta’zir Ubudiyyah”.
“Alah, tenang aja. Imamnya itu mbak Nida. Gue dah liat tadi pas nderes di mushola”, kata Silvi yang asli Jakarta.
“loh, emang aku po?”, Tanya Nida dengan muka polos.
“Ya udah, santai. Lagian yang lain juga buka puasa. Ngaret sitik gak popo”. Tambah mbak Lutfi sang ketua kamar.
Sampai puji-pujian di masjid berakhir dan iqomahpun berkumandang santri kamar Ma’wa tetap asik dengan makanannya. Barulah setelah sepuluh menit berlalu dari iqomah, mereka beranjak untuk pergi wudlu dan menuju mushola. Alangkah terkejutnya seluruh anggota kamar Ma’wa karena sholat jama’ah telah berakhir.
“loh ko sholate wes lebar? Imame kan mbak Nida to?”, pertanyaan sekaligus pembelaan Lutfi  karena telat datang.
“ya, memang jadwalnya Nida, tapi dia ditunggu lama banget. Jadi diganti yang selanjutnya”, jawab sie Ubudiyyah dengan santai.
Seluruh santri kamar Ma’wa bagai dikomando kompak mengatakan,
“ahhhhhh, aku gak mau dita’ziiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrr”.



                                                                                                                                                                                El farchah

Cinta Buta? Benarkah...?


Kata orang cinta itu buta. Cinta tidak memandng kasta maupun tahta. Cinta tidak mengenal rupa. Cinta tidak membedakan si kaya dan rakyat jelata. Kata orang juga, dalam cinta tidak ada aturan main. Benarkah demikian? lalu, jika cinta memang demikian, apakah yang aku rasakan ini bukan cinta? Aku tatap melihat siapa laki-lakiyang sekrang mengisi hatiku. Bagaimana sikap dan kepribadiannya, dia berasal dari keluarga yang seperti apa, apa yang ia lakukan dalam kesehariannya, apakah ia memilki akidah yang sama denganku atau tidak. Semua itu ada dalam list kriteria seorang pendampingku. Bagaimana mungkin cinta tidak memandang itu semua? Bagaimana seseorang bisa berpikir bahwa cinta tiddak cukup untuk melangsungkan masa depan yang cemerlang. Untuk mendapatkan masa depan yang cerah, tentu sebagai seorang wanita kita membutuhkan seorang laki-laki yang siap bekerja keras (tidak perlu laki-laki yang sudah mapan), berani menhghadapi berbagai rresiko tumah tangga, setia, dan yang terpenting adalah ia mencintai Tuhan-Nya lebih dari apapun. Kalau hanya demi cinta, aku tidak mungkin memilh orang yang sekarang menjadi pengisi hatiku. Tentu, kalau cinta itu buta, mungkin aku akan memilih orang yang lebih cakep dari dia. Tapi aku tidak. Toh, dalam setiap doa yang kupanjatkanpun, aku menyebutkan kriteria-kriteria calon pendamping yang aku minta pada-Nya. Menurutku, pendapat orang yang mengatakan cinta itu buta hanyalah mereka yang tidak mau berpikir keras. Orang yang mengatakan dalam cinta itu tidak ada aturan, itu hanya alibi mereka yang tidak mau ada aturan di dalam bercinta. Cinta sejati tentu aka nada aturan yang harus dijalankan sehingga cinta itu dapat membawa para pecinta menuju masa depan yang lebih indah. Bisa dilihat di sekeliling kita, berapa banyak anak gadis yang kehlangan kehormatannya dengan mengatasnamakan cinta? Berapa banyak bayi-bayi mungil yang tak berdosa yang harus kembali ke pangkuan Sang Penciptanya, bahkan sebelum ia tahu siapa ayah dan ibunya. Berapa banyak ruamah tangga pasangan suami isteri yang bercerai karena dulunya hanya mengatasnamakan cinta.
Oleh karena itu, memang benar cinta itu akan membawa kedamaian. Tapi jangan lupa, bahwa dalam Islam pun setidaknya ada empat kriteria yang sebaiknya diperhatikan ketika hendak memilih psangan. Yang pertama karena cakepnya, yang kedua karena nasabnya, yang ketiga karena hartanya, dan jika ketiga kriteria tadi tidak dapat ditemui, maka yang terpenting addalah karena agamanya. Karena agama akan mampu membawa ke kehidupan yang lebih baik. agama akan mampu mengatasi persoalan yang akan ditemui pasangan suami isteri kelak dalam berumah tangga.

Tom n Jerry


TOM AND JERY
Persahabatan abadi dalam dunia hewan
Tom dan Jery adalah sepasang hewan yang tidak pernah akur. Saya bingung akan menamakan mereka musuh atau justru sahabat. Mereka selalu bertengkar dalam setiap episode. Tom adalah kucing yang ingin memakan Jery, bagaimanapun caranya dia selalu terobsesi untuk menjadikan Jery sebagai santapan pagi, siang atau malam. Berbagai macam cara dilakukan oleh Tom, mulai dari menyamar sebagai tikus raksasa, memancing Jery dengan keju, meminum ramuan penggemuk tubuh dan lainnya. Namun sering kali usaha itu justru menjadi senjata makan tuan. Ia terperangkap dalam jebakan yang ia buat sendiri. Jery memang tampak lebih cerdas daripada Tom. Siasat yang Tom buat untuk menagkap dirinya akan diputar balikan untuk Tom. Tidak heran kalau sampai sekarang masih ada film Tom and Jery di layar televisi. Ini karena ushaa Tom untuk menangkap Jery belum juga berhasil.
Namun dalam suatu episode, mereka bisa tampak begitu akrab. Entah apa yang membuat mereka bagaikan dua sahabat yang benar-benar  saling menyayangi. Biasanya mereka berdua bekerja sama untuk menyelamatkan hewan lain. Mereka dapat bekerjasama begitu kompak.
Pertengkaran dan permusuhan antara Tom and Jery adalah pemanis dalam sebuah persahabatan. Mereka saling berebut cara untuk tampak lebih baik di mata majikan. Itu adalah hal biasa. Mereka saling menyerang pribadi agar bisa meraih simpati orang, itu juga hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah jika Tom and Jery tidak pernah lagi saling bermusuhan. Tidak ada lagi berebut kebenaran dan simpati. Tidak ada tegur sapa di antara mereka. walaupun tegur sapa itu menyakitkan karena dibungkus dengan permusuhan. Namun rasanya itu lebih baik daripada diam tanpa kata dan penjelasan.

                                                                                                                                                                               
El-farchah

aku menemukanmu kembali


“tiiiiitttt....tiiiittt....”.
Suara klakson motor Ardi memberitahukan dia telah siap menjemput Nava. Ardi, dengan tubuh gagahnya, memakai kaos warna merah dilapisi jaket kulit warna hitam dipadu celana jeans biru dongker, tampak cakep. Memaksa para cewek yang lalu lalang  melirikkan mata ke arahnya. Di dalam kamar yang berukuran 3x4 m, Nava masih sibuk memakai jilbab. Sudah lebih dari setengah jam dia memasangkan jilbab biru muda di wajahnya yang putih itu. Jilbab itu belum terpasang dengan rapi. Otot-otot tangan Nava terasa menegang dan lunglai.
Ia jadi teringat pada seorang ibu tukang pijat tradisional di depan kos-kosannya. Apakah ibu Ira tak merasakan pegal. Memijat terus tanpa henti. Ia paling hanya memiliki waktu untuk meregangkan otot-ototnya ketika waktu sholat dzuhur. Setelah itu, pasien akan berbondong mengantre untuk menikmati pijatan tangan bu Ira. Pijatan ibu Ira memang terkenal mujarab menghilangkan pegal yang melanda tubuh akibat kekurangan tidur atau terlalu memforsir tenaga. Nava senyum-senyum sendiri. Jadi ingin dipijat lagi oleh bu Ira.
lumpuhkanlah ingatankau jika itu tentang dia......
Lagu Geisha meluncur dari Hpnya. Menyadarkannya bahwa ia telah ditunggu oleh Ardi di bawah. Tanpa peduli lagi dengan jilbabnya, Navapun mengaitkan jilbab dengan jarum pentul sembarangan. Ia mengambil tas dari almari, memasukkan HP, dompet dan kaca. Sepatu di rak langsung ia pakai dari dalam kamar. Ia menuruni anak tangga setengah berlari.
Nava cukup beruntung memiliki Ardi. Dia adalah tipe cowok penyabar. Terbukti ia selalu sabar menghadapi tingkah Nava yang aneh-aneh. Pernah suatu malam, Nava mengirim pesan lewat ponselnya.
Ardi syng,  pngn mkn mrtbk kbng. Beli’n ya...gk mngkn kn ak keluar mlm2. Km jg gk ng’blhin ak kluar mlm2. Mksh syng...baik deh
Pesan itu hanya Ardi balas dengan emoticon senyum. Tak mampu ia menolak keinginan Nava. Begitu berarti ia bagi dirinya. Tak sedikitpun Ardi berani membuatnya kecewa. Dengan tubuh dilapisi jaket kesayangannya, Ardi melaju kencang dengan Ninja. Saat itu telah menunjukkan pukul 11.00 am. Martabak kubang dijual di dekat lampu merah samping toko buku “PINTAR”. Ada tujuh lampu merah yang harus ia lewati. Belok kanan menuju jalan Kapiten Petimura, lurus. Kemudian belok kiri melewati perumahan elit. Barulah ia sampai di penjual martabak kubang. Ia sampai di sana sekita puku 11.20 am. Perjalanan ke kosan Nava masih 10 menit lagi. Ardi cepat membayar dan mengantarkannya ke kosan cewek yang sangat ia sayangi.
“Udah lama nunggu?”. Ardi menyerahkan kantong kresek yang berisi martabak.
“Nggak apa-apa kok. Maaf ya ngrepotin kamu”. Nava menyeringai seperti kucing yang berhasil menangkap tikus sebagai hidangan makan malamnya.
“Ya udah, pulang sana”.
“Ya... martabaknya dimakan, terus tidur”.
Nava melambaikan tangan melepaskan Ardi sampai ia hilang di tikungan.
Itu hanya bagian terkecil dari pengorbanan seorang Ardi. Masih banyak yang lebih besar dari itu.
***
“Hi sayang... hehe, maaf ya lama. Jilbab ini susah banget dipakai”. Nava memamerkan giginya yang putih dan tertata rapi.
“Ayo naik. Keburu siang. Panas”.
Dalam hati, Nava mengucapkan syukur karena telah diberikan seorang Ardi.
Dalam perjalana, Nava berfikir kenapa seseorang harus terus berjilbab. Toh banyak orang yang berjilbab tapi hanya kepalanya saja yang dijilbabin. Hatinya terbuka lebar sebagai sarang penyakit-penyakit hati. Ingatannya menuju ke seorang teman di fakultas. Ia seorang wanita yang dikenal shalehah. Jilbabnya lebar menutupi badan. Tidak tampak lekuk tubuh sedikitpun. Bajunya lebar. Namun belakangan, ia sering tidak masuk kuliah. Dari info yang ia dengar, katanya dia tengah hamil. Entah dengan siapa. Yang menjadi pertanyaan besar Nava adalah “kok ya bisa, cewek yang berpenampilan sangat sopn tiba-tiba digosipkan hamil”. Hih serem.
Ia ingin melepaskan jilbabnya. Yang lebih penting, hati ini bersih. Ia pun berhubungan dengan Ardi tak pernah melewati batas-batas normal. Hanya sesekali jalan bareng. Tidak seperti teman-temannya yang setiap hari ketemu dan tak jarang mereka bergantian menginap di kosan masing-masing. Ia mengutarakan keinginannya pada Ardi setelah mereka sampai di Prambanan.
“Sayang, aku pengin lepas jilbab aja ah. Boleh?’’. Nava menyeruput es degan di hadapannya.
Ardi hanya melongo. Menunjukkan wajah bingung dicampur kaget.
“Kenapa?”. Hanya itu kata yang mampu keluar dari kebengongannya. Nava menjelaskan panjang lebar bahwa jilbab tidak menjamin seseorang itu baik. Ia ingin menata dirinya agar sempurna. Baru dia akan mengenakan jilbab kembali.
Keheningan terjadi sesaat. Ardi tahu bahwa orang tua Nava orang yang agamis. Abinya cukup berpengaruh di lingkungan. Ia berpacaran dengan Nava tentu dengan sepengetahuan keluarganya. Ia tak berani bertingkah macam-macam. Meskipun ia bukan orang yang paham agama dengan baik, namun ia tak pernah sedikitpun berniat merusak gadis yang sangat ia sayangi. Ia ingin menjaga Nava dengan sebaik-baiknya. Sebisa yang ia mampu. Ia berharap hubungannya bisa berlanjut sampai pelaminan. Saat mendengar keinginan dari Nava, Ardi begitu shock.
Nava mengaduk-aduk es degan pipet. Menunggu reaksi Ardi yang masih diam seribu kata.
“Sayang...Navapun memberanikan diri menyadarkan Ardi dari lamunannya. Are you OK?’’.
Ardi menatap Nava lurus. “kenapa kamu? Apa yang membuat kamu berfikiran seperti ini? Aku nggak bisa ngerti dengan jalan fikiran kamu Va”. Pertanyaan memberondong Nava sekaligus. Nava kaget dengan reaksi Ardi. Ia fikir kekasihnya itu akan setuju dengan keputusannya menanggalkan jilbab. Ia fikir, Ardi, yang tidak memiliki latar  belakang agama sebaik dirinya, akan dengan mudah menyetujui keputusannya. Namun di luar dugaan, Ardi sama sekali tidak menyetujui keputusan Nava. Ia ingin Nava menjadi ibu bagi anak-anaknya. Ia butuh seorang ibu yang bisa mendidik agama dengan baik. Sejauh ini, Ardi selalu menerima kemanjaan Nava serta keegoisannya. Tapi tidak untuk masalah ini.
“OK. Silakan kamu pilih jalan kamu Va. Aku tak berhak memaksakan apapun sama kamu. Kalau kamu memang ingin melepas jilbab, lakukanlah. Dan hubungan kita cukup samapai di sini”.
Ardi menatap kekasihnya nanar. Tak mampu lagi ia berkata-kata. Nava yang sudah sangat bosen dengan kehidupannya yang selalu dibungkus kain lebar, tetap pada pendiriannya. Ia tak peduli jika memang Ardi harus meninggalkannya. Ia sudah terhasut oleh teman-teman satu kosannya. Awalnya, ia sama sekali tidak ada niat menanggalkan jilbab. Tapi sebesar apa si benteng iman yang ia miliki. Mungkin ketika benteng itu tidak seberapa kuat, namun setiap hari selalu diperbaharui, benteng itu tidak akan runtuh. Namun, kehidupannya sebagai anak kos yang dominan teman-temannya adalah cewek glamour yang suka dunia malam. Ia sangat sulit membentengi dirinya. Dosa sebesar apapun tidak akan terasa jika hati telah akrab dengannya. Seprti perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib RA, beliau mengatakan bahwa ia tidak takut mengerjakan dosa. Namun yang lebih ia takutkan adalah hatinya akan akrab dengan dosa. Sehingga tak terasa lagi bahwa yang ia kerjakan adalah dosa.
Setelah Nava merasa Ardi tidak bisa diharapkan, ia meninggalkannya dengan perasaan campur aduk. Ada marah, kecewa, takut. Ia tak bisa mendeskripsikan seperti apa hatinya sekarang. Ia memutuskan untuk menemui Silvi, sahabatnya. Ia masuk ke kamar Silvi dan menumpahkan segala isi hatinya. Beruntunglah, Silvi tipe gadis sanguinis. Jadi ia bersedia mendengarkan segala curahan hati sahabatnya tanpa merasa menjadi tempat sampah. Setengah jam kamar Silvi dibanjiri tangis Nava. Tisu berserakan di bawah turut menghiasi lantai hijau bermotif bunga di kamar Silvi. Selama Nava curhat, Silvi hanya mendengarkan dengan baik. Ia tahu bahwa seseorang yang sedang kalut dengan masalah, jangan buru-buru ditanggapi. Ia hanya butuh tempat untuk mencurahkan segala perasannya. 
Setelah tangis Nava reda, barulah Silvi beralih menjadi konsultan hati. Dia bertanya kenapa tiba-tiba Nava ingin melepaskan jilbabnya. Silvi menyarankan kepada sahabatnya untuk memikirkan kembali keputusan itu. Apa ia sudah siap dengan semua yang akan ia hadapi. Berpisah dengan Ardi. Tanggapan teman kampus. Dan yang lebih penting, siapkah ia menghadapi keluarganya. Meski Silvi sendiri tidak mengenakan jilbab, namun ia sudah kenal keluarga Nava. Memang keluarganya tidak pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu. Demokrasi sangat dijunjung dalam keluarga sederhana itu. Nava tidak pernah dilarang melakukan sesutau yang ia suka. Seperti dulu ketika ia tidak ingin hidup di pesantren setelah lulus Aliah. Dia mengatakan, mahasiswa harus berkembang. Sangat sulit mengembangkan bakat jika harus dibatasi oleh tembok peraturan pesantren. Ia telah merasakan pengekangan itu selama enam tahun. Ketika masuk bangku kuliah, ia ingin melebarkan sayap bakatnya. Dengan alasan yang Nava ajukan, keluarga besar menyetujui keputusan Nava. Sekarang Nava akan semakin jauh dari pengawasan dan kontrol keluarga. menjauhkan dirinya dari Allah secara perlahan. Kebebasan yang diberikan oleh ayah dan keluarganya, membuat Nava semakin bertindak semaunya.
“Va, apa kamu benar-benar serius?”. Tatapan Silvi lurus dan tajam menatap sahabatnya yang masih diselimuti air mata.
“Sil, aku ingin membenahi hatiku dulu. Baru setelah itu aku akan kembali menutup kepalaku”. Tangan mungil Nava menggenggam tangan Silvi. Matanya menatap dengan penuh permintaan persetujuan. Silvi tak mampu berbuat banyak untuk mempertahankan sahabatnya tetap berjilbab. Dalam hati, Silvi menyesali keputusan sahabatnya. Juga dirinya. Baru tadi malam, ia ingin belajar Islam yang benar kepada Nava. Ada keinginan berhijab juga. Tak terasa air hangat mengalir dari sudut matanya.
“Sil, maafkan aku. Tolong”. Nava merangkul sahabatnya. Silvi hanya pasrah dan mematung.
***
Setelah sholat Ashar, Nava pamit pulang. Sekali lagi ia merangkul Silvi. Derai air mata kembali menghiasi pipi putih Nava. Ia menancapkan gas menuju kosannya. Ia masih kalut. Mencoba mereka ulang kejadian yang ia alami dari pagi sampai sore hari. Tentang pertengkarannya dengan Ardi yang berujung putus. Tentang keputusannya untuk berhenti sejenak memakai jilbab sementara ia membenahi hatinya. Terbayang wajah abi dan umi. Entah apa yang akan ia terima dari kedua orang tua terkasihnya. Wajahnya memanas. Matanya melihat ke depan namun pandangannya kabur. Telinganya tak dapat mendengar apapun. Sesaat kemudian ia sadar ia akan segera menabrak tiang listrik di depannya. Kecelakan itu tak dapat ia hindari. Ia mendapati tubuhnya tergeletak di pinggir jalan. Motor beatnya remuk. Lampu depan penyok. Spionnya terlepas, mental entah ke mana. Ban depan remuk. Ia hanya pasrah ketika seorang ibu meolongnya dan membawa ke rumah sakit dengan ambulance yang segera datang setelah ditelephone. Ia langsung dimasukkan ke ruang UGD. Satu jam kemudian, dokter mempersilakan keluarga untuk masuk. Sang ibu turut masuk dibarengi Silvi. Entah dari mana Silvi tahu kecelakan itu. Sebelum Nava mengucapkan terima kasih, ibu itu telah menghilang. Ia meniggalakan selembar kertaas warna hijau muda di ranjangnya. Ia mengambil kertas dan membacanya. Kertas itu bertuliskan satu ayat dari Al-qur’an surat An-Nur ayat 31.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama) Islam mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan”.
Ada desir angin yang menyapu wajahnya. Ia amati kata demi kata yang tertulis di sana. Ada rasa haru yang tiba-tiba memenuhi hati. Namun juga ada bahagia yang membuncah berasal dari bagian hati terkecilnya. Ia menggenggam tangan Silvi yang juga menyunggingkan senyum bahagia. Tak lama, ia melihat sosok umi dan abi memasuki ruangan. Umi menahan haru melihat putri bungsunya terbaring tak berdaya. Sekitar pukul delapan malam Silvi pamit pulang. Silvi pulang tidak dengan tangan hampa. Segenggam keyakinan hidayah Allah telah ia genggam dalam hati.
***
Lewat tengah malam, ia terbangun. Ia mendapati umi sedang bermunajat kepada Sang Kholiq. Air hangat menetesi pipinya. Umi yang sadar putrinya terbangun, menghampiri.
Belaian tangan umi menentramkan kegalauan hati Nava. Nava sesenggukan. Umi bingung apa yang terjadi dengan sang bungsu. Umi membiarkan Nava menangis. Kemudian cerita mengalir diiringi tangis. Nava menceritakan kehidupannya selama kuliah. Tentang teman-teman yang memiliki kehidupan glamour. Tentang Ardi yang melepaskan dirinya dengan pilihan yang ia ambil. Sampai kejadian kecelakaan tadi sore. Tangis Nava semakin menjadi. Umi memeluk erat tubuh mungil Nava. Dengan suara yang sangat lembut, umi menghibur putri bungsunya.
“Manusia adalah makhluk yang sempurna. Padanya terdapat akal dan fikiran serta nafsu. Tak ada makhluk yang lebih sempurna dari manusia. Malaikat tak memiliki nafsu. Wajar jika mereka selalu taat pada Allah SWT. Jin dan iblis hanya memiliki nafsu. Wajar jika mereka akan terus menjerumuskan manusia ke jalan api neraka supaya menjadi teman di neraka. Kekal di neraka”. Kata-kata umi berhenti. Ia pandangi putrinya. Umi sadar putrinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Ada rasa sesal menggelayuti, kenapa ia dan abi begitu memberi kebebasan padanya. Mereka melepaskan Nava tanpa bimbingan agama di kota pelajar yang penuh dengan kebejatan moral. Antara yang baik dan buruk tak lagi jelas. Semuanya samar. Umi menyeka air matanya dengan tangan.
“Umi... umi nangis? Maafkan Nava umi. Nava sudah membuat umi dan abi kecewa. Maaf...”. Nava kembali menangis sesenggukan. Umi semakin memeluknya erat.
“Nggak sayang, Nava tak sepenuhnya salah. Umi dan abi juga salah. Maaf ya... kami tak sepenuhnya mengawasi kamu. Kami belum menjadi orang tua yang baik dan bijaksana”.
Dua ibu dan anak berpelukan di tengah gelapnya malam. Pengakuan kesalahan masing-masing membawa malaiakat menurunkan rahmat-Nya. Suasana hangat diselimuti keridloan-Nya. Sebesar apapun dosa manusia, asalkan manusia mau bertobat, rahmat Allah akan mampu menghapus dosa-dosa tersebut.
Setelah kejadian malam itu, Nava bertobat atas apa yang ia lakukan. Segalanya berubah. Ia tetap kuliah dan berteman dengan temannya. Hanya sekarang ia berubah menjadi Nava yang penuh dengan kelembutan. Ada misi besar yang ia emban. Membawa teman-temannya menggapai hidayah-Nya. Ia sadar hal itu bukan hal mudah. Tapi ia tetap optimis. Sesaat ia teringat surat Yusuf ayat 87.
 “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah   orang kafir”.
***
Di balik pohon cemara yang rindang, ada sepasang mata yang mengamati Nava bersama teman-temannya dalam sebuah kajian. Ia berdiri. Tak berani menghampiri apalagi menyapa. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia pun akan mengikuti jejak Nava. Menggapai hidayah Ilahi. Merengkuh rahmat ke dalam pelukannya. Sepasang mata itu mengalirkan air hangat dari sudut mata. Ada semacam janji tak terucap, ia akan kembali mendatanginya untuk memintanya menjadi pendamping dan ibu dari anak-anaknya. Ardi Santoso. Dia akan berubah menjadi laki-laki baru untuk menjemput kembali cintanya pada Nava. Bersama menggapai cinta-Nya.