“tiiiiitttt....tiiiittt....”.
Suara
klakson motor Ardi memberitahukan dia telah siap menjemput Nava. Ardi, dengan
tubuh gagahnya, memakai kaos warna merah dilapisi jaket kulit warna hitam
dipadu celana jeans biru dongker, tampak cakep. Memaksa para cewek yang lalu
lalang melirikkan mata ke arahnya. Di
dalam kamar yang berukuran 3x4 m, Nava masih sibuk memakai jilbab. Sudah lebih
dari setengah jam dia memasangkan jilbab biru muda di wajahnya yang putih itu.
Jilbab itu belum terpasang dengan rapi. Otot-otot tangan Nava terasa menegang
dan lunglai.
Ia
jadi teringat pada seorang ibu tukang pijat tradisional di depan kos-kosannya.
Apakah ibu Ira tak merasakan pegal. Memijat terus tanpa henti. Ia paling hanya
memiliki waktu untuk meregangkan otot-ototnya ketika waktu sholat dzuhur.
Setelah itu, pasien akan berbondong mengantre untuk menikmati pijatan tangan bu
Ira. Pijatan ibu Ira memang terkenal mujarab menghilangkan pegal yang melanda
tubuh akibat kekurangan tidur atau terlalu memforsir tenaga. Nava senyum-senyum
sendiri. Jadi ingin dipijat lagi oleh bu Ira.
lumpuhkanlah ingatankau
jika itu tentang dia......
Lagu
Geisha meluncur dari Hpnya. Menyadarkannya bahwa ia telah ditunggu oleh Ardi di
bawah. Tanpa peduli lagi dengan jilbabnya, Navapun mengaitkan jilbab dengan
jarum pentul sembarangan. Ia mengambil tas dari almari, memasukkan HP, dompet
dan kaca. Sepatu di rak langsung ia pakai dari dalam kamar. Ia menuruni anak
tangga setengah berlari.
Nava
cukup beruntung memiliki Ardi. Dia adalah tipe cowok penyabar. Terbukti ia
selalu sabar menghadapi tingkah Nava yang aneh-aneh. Pernah suatu malam, Nava
mengirim pesan lewat ponselnya.
Ardi syng, pngn mkn mrtbk kbng. Beli’n ya...gk mngkn kn
ak keluar mlm2. Km jg gk ng’blhin ak kluar mlm2. Mksh syng...baik deh
Pesan
itu hanya Ardi balas dengan emoticon senyum. Tak mampu ia menolak keinginan
Nava. Begitu berarti ia bagi dirinya. Tak sedikitpun Ardi berani membuatnya
kecewa. Dengan tubuh dilapisi jaket kesayangannya, Ardi melaju kencang dengan
Ninja. Saat itu telah menunjukkan pukul 11.00 am. Martabak kubang dijual di
dekat lampu merah samping toko buku “PINTAR”. Ada tujuh lampu merah yang harus
ia lewati. Belok kanan menuju jalan Kapiten Petimura, lurus. Kemudian belok
kiri melewati perumahan elit. Barulah ia sampai di penjual martabak kubang. Ia
sampai di sana sekita puku 11.20 am. Perjalanan ke kosan Nava masih 10 menit
lagi. Ardi cepat membayar dan mengantarkannya ke kosan cewek yang sangat ia
sayangi.
“Udah
lama nunggu?”. Ardi menyerahkan kantong kresek yang berisi martabak.
“Nggak
apa-apa kok. Maaf ya ngrepotin kamu”. Nava menyeringai seperti kucing yang berhasil
menangkap tikus sebagai hidangan makan malamnya.
“Ya
udah, pulang sana”.
“Ya...
martabaknya dimakan, terus tidur”.
Nava
melambaikan tangan melepaskan Ardi sampai ia hilang di tikungan.
Itu
hanya bagian terkecil dari pengorbanan seorang Ardi. Masih banyak yang lebih
besar dari itu.
***
“Hi
sayang... hehe, maaf ya lama. Jilbab ini susah banget dipakai”. Nava memamerkan
giginya yang putih dan tertata rapi.
“Ayo
naik. Keburu siang. Panas”.
Dalam
hati, Nava mengucapkan syukur karena telah diberikan seorang Ardi.
Dalam
perjalana, Nava berfikir kenapa seseorang harus terus berjilbab. Toh banyak
orang yang berjilbab tapi hanya kepalanya saja yang dijilbabin. Hatinya terbuka
lebar sebagai sarang penyakit-penyakit hati. Ingatannya menuju ke seorang teman
di fakultas. Ia seorang wanita yang dikenal shalehah. Jilbabnya lebar menutupi
badan. Tidak tampak lekuk tubuh sedikitpun. Bajunya lebar. Namun belakangan, ia
sering tidak masuk kuliah. Dari info yang ia dengar, katanya dia tengah hamil.
Entah dengan siapa. Yang menjadi pertanyaan besar Nava adalah “kok ya bisa, cewek yang berpenampilan
sangat sopn tiba-tiba digosipkan hamil”. Hih serem.
Ia
ingin melepaskan jilbabnya. Yang lebih penting, hati ini bersih. Ia pun
berhubungan dengan Ardi tak pernah melewati batas-batas normal. Hanya sesekali
jalan bareng. Tidak seperti teman-temannya yang setiap hari ketemu dan tak
jarang mereka bergantian menginap di kosan masing-masing. Ia mengutarakan
keinginannya pada Ardi setelah mereka sampai di Prambanan.
“Sayang,
aku pengin lepas jilbab aja ah. Boleh?’’. Nava menyeruput es degan di
hadapannya.
Ardi
hanya melongo. Menunjukkan wajah bingung dicampur kaget.
“Kenapa?”.
Hanya itu kata yang mampu keluar dari kebengongannya. Nava menjelaskan panjang
lebar bahwa jilbab tidak menjamin seseorang itu baik. Ia ingin menata dirinya
agar sempurna. Baru dia akan mengenakan jilbab kembali.
Keheningan
terjadi sesaat. Ardi tahu bahwa orang tua Nava orang yang agamis. Abinya cukup
berpengaruh di lingkungan. Ia berpacaran dengan Nava tentu dengan sepengetahuan
keluarganya. Ia tak berani bertingkah macam-macam. Meskipun ia bukan orang yang
paham agama dengan baik, namun ia tak pernah sedikitpun berniat merusak gadis
yang sangat ia sayangi. Ia ingin menjaga Nava dengan sebaik-baiknya. Sebisa
yang ia mampu. Ia berharap hubungannya bisa berlanjut sampai pelaminan. Saat
mendengar keinginan dari Nava, Ardi begitu shock.
Nava
mengaduk-aduk es degan pipet. Menunggu reaksi Ardi yang masih diam seribu kata.
“Sayang...Navapun
memberanikan diri menyadarkan Ardi dari lamunannya. Are you OK?’’.
Ardi
menatap Nava lurus. “kenapa kamu? Apa yang membuat kamu berfikiran seperti ini?
Aku nggak bisa ngerti dengan jalan fikiran kamu Va”. Pertanyaan memberondong
Nava sekaligus. Nava kaget dengan reaksi Ardi. Ia fikir kekasihnya itu akan
setuju dengan keputusannya menanggalkan jilbab. Ia fikir, Ardi, yang tidak
memiliki latar belakang agama sebaik
dirinya, akan dengan mudah menyetujui keputusannya. Namun di luar dugaan, Ardi
sama sekali tidak menyetujui keputusan Nava. Ia ingin Nava menjadi ibu bagi
anak-anaknya. Ia butuh seorang ibu yang bisa mendidik agama dengan baik. Sejauh
ini, Ardi selalu menerima kemanjaan Nava serta keegoisannya. Tapi tidak untuk
masalah ini.
“OK.
Silakan kamu pilih jalan kamu Va. Aku tak berhak memaksakan apapun sama kamu.
Kalau kamu memang ingin melepas jilbab, lakukanlah. Dan hubungan kita cukup
samapai di sini”.
Ardi
menatap kekasihnya nanar. Tak mampu lagi ia berkata-kata. Nava yang sudah
sangat bosen dengan kehidupannya yang selalu dibungkus kain lebar, tetap pada
pendiriannya. Ia tak peduli jika memang Ardi harus meninggalkannya. Ia sudah
terhasut oleh teman-teman satu kosannya. Awalnya, ia sama sekali tidak ada niat
menanggalkan jilbab. Tapi sebesar apa si benteng iman yang ia miliki. Mungkin ketika
benteng itu tidak seberapa kuat, namun setiap hari selalu diperbaharui, benteng
itu tidak akan runtuh. Namun, kehidupannya sebagai anak kos yang dominan
teman-temannya adalah cewek glamour
yang suka dunia malam. Ia sangat sulit membentengi dirinya. Dosa sebesar apapun
tidak akan terasa jika hati telah akrab dengannya. Seprti perkataan sahabat Ali
bin Abi Thalib RA, beliau mengatakan bahwa ia
tidak takut mengerjakan dosa. Namun yang lebih ia takutkan adalah hatinya akan
akrab dengan dosa. Sehingga tak terasa lagi bahwa yang ia kerjakan adalah dosa.
Setelah
Nava merasa Ardi tidak bisa diharapkan, ia meninggalkannya dengan perasaan campur
aduk. Ada marah, kecewa, takut. Ia tak bisa mendeskripsikan seperti apa hatinya
sekarang. Ia memutuskan untuk menemui Silvi, sahabatnya. Ia masuk ke kamar
Silvi dan menumpahkan segala isi hatinya. Beruntunglah, Silvi tipe gadis
sanguinis. Jadi ia bersedia mendengarkan segala curahan hati sahabatnya tanpa
merasa menjadi tempat sampah. Setengah jam kamar Silvi dibanjiri tangis Nava.
Tisu berserakan di bawah turut menghiasi lantai hijau bermotif bunga di kamar Silvi.
Selama Nava curhat, Silvi hanya mendengarkan dengan baik. Ia tahu bahwa
seseorang yang sedang kalut dengan masalah, jangan buru-buru ditanggapi. Ia
hanya butuh tempat untuk mencurahkan segala perasannya.
Setelah
tangis Nava reda, barulah Silvi beralih menjadi konsultan hati. Dia bertanya kenapa
tiba-tiba Nava ingin melepaskan jilbabnya. Silvi menyarankan kepada sahabatnya
untuk memikirkan kembali keputusan itu. Apa ia sudah siap dengan semua yang
akan ia hadapi. Berpisah dengan Ardi. Tanggapan teman kampus. Dan yang lebih
penting, siapkah ia menghadapi keluarganya. Meski Silvi sendiri tidak
mengenakan jilbab, namun ia sudah kenal keluarga Nava. Memang keluarganya tidak
pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu. Demokrasi sangat dijunjung dalam
keluarga sederhana itu. Nava tidak pernah dilarang melakukan sesutau yang ia
suka. Seperti dulu ketika ia tidak ingin hidup di pesantren setelah lulus
Aliah. Dia mengatakan, mahasiswa harus berkembang. Sangat sulit mengembangkan
bakat jika harus dibatasi oleh tembok peraturan pesantren. Ia telah merasakan
pengekangan itu selama enam tahun. Ketika masuk bangku kuliah, ia ingin
melebarkan sayap bakatnya. Dengan alasan yang Nava ajukan, keluarga besar
menyetujui keputusan Nava. Sekarang Nava akan semakin jauh dari pengawasan dan
kontrol keluarga. menjauhkan dirinya dari Allah secara perlahan. Kebebasan yang
diberikan oleh ayah dan keluarganya, membuat Nava semakin bertindak semaunya.
“Va,
apa kamu benar-benar serius?”. Tatapan Silvi lurus dan tajam menatap sahabatnya
yang masih diselimuti air mata.
“Sil,
aku ingin membenahi hatiku dulu. Baru setelah itu aku akan kembali menutup
kepalaku”. Tangan mungil Nava menggenggam tangan Silvi. Matanya menatap dengan
penuh permintaan persetujuan. Silvi tak mampu berbuat banyak untuk
mempertahankan sahabatnya tetap berjilbab. Dalam hati, Silvi menyesali
keputusan sahabatnya. Juga dirinya. Baru tadi malam, ia ingin belajar Islam
yang benar kepada Nava. Ada keinginan berhijab juga. Tak terasa air hangat
mengalir dari sudut matanya.
“Sil,
maafkan aku. Tolong”. Nava merangkul sahabatnya. Silvi hanya pasrah dan
mematung.
***
Setelah
sholat Ashar, Nava pamit pulang. Sekali lagi ia merangkul Silvi. Derai air mata
kembali menghiasi pipi putih Nava. Ia menancapkan gas menuju kosannya. Ia masih
kalut. Mencoba mereka ulang kejadian yang ia alami dari pagi sampai sore hari.
Tentang pertengkarannya dengan Ardi yang berujung putus. Tentang keputusannya
untuk berhenti sejenak memakai jilbab sementara ia membenahi hatinya. Terbayang
wajah abi dan umi. Entah apa yang akan ia terima dari kedua orang tua
terkasihnya. Wajahnya memanas. Matanya melihat ke depan namun pandangannya
kabur. Telinganya tak dapat mendengar apapun. Sesaat kemudian ia sadar ia akan
segera menabrak tiang listrik di depannya. Kecelakan itu tak dapat ia hindari.
Ia mendapati tubuhnya tergeletak di pinggir jalan. Motor beatnya remuk. Lampu
depan penyok. Spionnya terlepas,
mental entah ke mana. Ban depan remuk. Ia
hanya pasrah ketika seorang ibu meolongnya dan membawa ke rumah sakit dengan
ambulance yang segera datang setelah ditelephone. Ia langsung dimasukkan ke
ruang UGD. Satu jam kemudian, dokter mempersilakan keluarga untuk masuk. Sang
ibu turut masuk dibarengi Silvi. Entah dari mana Silvi tahu kecelakan itu.
Sebelum Nava mengucapkan terima kasih, ibu itu telah menghilang. Ia
meniggalakan selembar kertaas warna hijau muda di ranjangnya. Ia mengambil
kertas dan membacanya. Kertas itu bertuliskan satu ayat dari Al-qur’an surat
An-Nur ayat 31.
“Dan katakanlah kepada
para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara
kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra
mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka,
atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan
mereka, atau para perempuan (sesama) Islam mereka, atau hamba sahaya yang
mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan”.
Ada
desir angin yang menyapu wajahnya. Ia amati kata demi kata yang tertulis di
sana. Ada rasa haru yang tiba-tiba memenuhi hati. Namun juga ada bahagia yang
membuncah berasal dari bagian hati terkecilnya. Ia menggenggam tangan Silvi
yang juga menyunggingkan senyum bahagia. Tak lama, ia melihat sosok umi dan abi
memasuki ruangan. Umi menahan haru melihat putri bungsunya terbaring tak
berdaya. Sekitar pukul delapan malam Silvi pamit pulang. Silvi pulang tidak
dengan tangan hampa. Segenggam keyakinan hidayah Allah telah ia genggam dalam
hati.
***
Lewat
tengah malam, ia terbangun. Ia mendapati umi sedang bermunajat kepada Sang
Kholiq. Air hangat menetesi pipinya. Umi yang sadar putrinya terbangun, menghampiri.
Belaian
tangan umi menentramkan kegalauan hati Nava. Nava sesenggukan. Umi bingung apa
yang terjadi dengan sang bungsu. Umi membiarkan Nava menangis. Kemudian cerita
mengalir diiringi tangis. Nava menceritakan kehidupannya selama kuliah. Tentang
teman-teman yang memiliki kehidupan glamour.
Tentang Ardi yang melepaskan dirinya dengan pilihan yang ia ambil. Sampai
kejadian kecelakaan tadi sore. Tangis Nava semakin menjadi. Umi memeluk erat
tubuh mungil Nava. Dengan suara yang sangat lembut, umi menghibur putri
bungsunya.
“Manusia
adalah makhluk yang sempurna. Padanya terdapat akal dan fikiran serta nafsu.
Tak ada makhluk yang lebih sempurna dari manusia. Malaikat tak memiliki nafsu.
Wajar jika mereka selalu taat pada Allah SWT. Jin dan iblis hanya memiliki
nafsu. Wajar jika mereka akan terus menjerumuskan manusia ke jalan api neraka
supaya menjadi teman di neraka. Kekal di neraka”. Kata-kata umi berhenti. Ia
pandangi putrinya. Umi sadar putrinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang
cantik. Ada rasa sesal menggelayuti, kenapa ia dan abi begitu memberi kebebasan
padanya. Mereka melepaskan Nava tanpa bimbingan agama di kota pelajar yang
penuh dengan kebejatan moral. Antara yang baik dan buruk tak lagi jelas.
Semuanya samar. Umi menyeka air matanya dengan tangan.
“Umi...
umi nangis? Maafkan Nava umi. Nava sudah membuat umi dan abi kecewa. Maaf...”.
Nava kembali menangis sesenggukan. Umi semakin memeluknya erat.
“Nggak
sayang, Nava tak sepenuhnya salah. Umi dan abi juga salah. Maaf ya... kami tak
sepenuhnya mengawasi kamu. Kami belum menjadi orang tua yang baik dan
bijaksana”.
Dua
ibu dan anak berpelukan di tengah gelapnya malam. Pengakuan kesalahan
masing-masing membawa malaiakat menurunkan rahmat-Nya. Suasana hangat
diselimuti keridloan-Nya. Sebesar apapun dosa manusia, asalkan manusia mau
bertobat, rahmat Allah akan mampu menghapus dosa-dosa tersebut.
Setelah
kejadian malam itu, Nava bertobat atas apa yang ia lakukan. Segalanya berubah.
Ia tetap kuliah dan berteman dengan temannya. Hanya sekarang ia berubah menjadi
Nava yang penuh dengan kelembutan. Ada misi besar yang ia emban. Membawa
teman-temannya menggapai hidayah-Nya. Ia sadar hal itu bukan hal mudah. Tapi ia
tetap optimis. Sesaat ia teringat surat Yusuf ayat 87.
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang kafir”.
***
Di
balik pohon cemara yang rindang, ada sepasang mata yang mengamati Nava bersama
teman-temannya dalam sebuah kajian. Ia berdiri. Tak berani menghampiri apalagi
menyapa. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia pun akan mengikuti jejak Nava.
Menggapai hidayah Ilahi. Merengkuh rahmat ke dalam pelukannya. Sepasang mata
itu mengalirkan air hangat dari sudut mata. Ada semacam janji tak terucap, ia
akan kembali mendatanginya untuk memintanya menjadi pendamping dan ibu dari
anak-anaknya. Ardi Santoso. Dia akan berubah menjadi laki-laki baru untuk
menjemput kembali cintanya pada Nava. Bersama menggapai cinta-Nya.