Minggu, 30 Agustus 2015

aku menemukanmu kembali


“tiiiiitttt....tiiiittt....”.
Suara klakson motor Ardi memberitahukan dia telah siap menjemput Nava. Ardi, dengan tubuh gagahnya, memakai kaos warna merah dilapisi jaket kulit warna hitam dipadu celana jeans biru dongker, tampak cakep. Memaksa para cewek yang lalu lalang  melirikkan mata ke arahnya. Di dalam kamar yang berukuran 3x4 m, Nava masih sibuk memakai jilbab. Sudah lebih dari setengah jam dia memasangkan jilbab biru muda di wajahnya yang putih itu. Jilbab itu belum terpasang dengan rapi. Otot-otot tangan Nava terasa menegang dan lunglai.
Ia jadi teringat pada seorang ibu tukang pijat tradisional di depan kos-kosannya. Apakah ibu Ira tak merasakan pegal. Memijat terus tanpa henti. Ia paling hanya memiliki waktu untuk meregangkan otot-ototnya ketika waktu sholat dzuhur. Setelah itu, pasien akan berbondong mengantre untuk menikmati pijatan tangan bu Ira. Pijatan ibu Ira memang terkenal mujarab menghilangkan pegal yang melanda tubuh akibat kekurangan tidur atau terlalu memforsir tenaga. Nava senyum-senyum sendiri. Jadi ingin dipijat lagi oleh bu Ira.
lumpuhkanlah ingatankau jika itu tentang dia......
Lagu Geisha meluncur dari Hpnya. Menyadarkannya bahwa ia telah ditunggu oleh Ardi di bawah. Tanpa peduli lagi dengan jilbabnya, Navapun mengaitkan jilbab dengan jarum pentul sembarangan. Ia mengambil tas dari almari, memasukkan HP, dompet dan kaca. Sepatu di rak langsung ia pakai dari dalam kamar. Ia menuruni anak tangga setengah berlari.
Nava cukup beruntung memiliki Ardi. Dia adalah tipe cowok penyabar. Terbukti ia selalu sabar menghadapi tingkah Nava yang aneh-aneh. Pernah suatu malam, Nava mengirim pesan lewat ponselnya.
Ardi syng,  pngn mkn mrtbk kbng. Beli’n ya...gk mngkn kn ak keluar mlm2. Km jg gk ng’blhin ak kluar mlm2. Mksh syng...baik deh
Pesan itu hanya Ardi balas dengan emoticon senyum. Tak mampu ia menolak keinginan Nava. Begitu berarti ia bagi dirinya. Tak sedikitpun Ardi berani membuatnya kecewa. Dengan tubuh dilapisi jaket kesayangannya, Ardi melaju kencang dengan Ninja. Saat itu telah menunjukkan pukul 11.00 am. Martabak kubang dijual di dekat lampu merah samping toko buku “PINTAR”. Ada tujuh lampu merah yang harus ia lewati. Belok kanan menuju jalan Kapiten Petimura, lurus. Kemudian belok kiri melewati perumahan elit. Barulah ia sampai di penjual martabak kubang. Ia sampai di sana sekita puku 11.20 am. Perjalanan ke kosan Nava masih 10 menit lagi. Ardi cepat membayar dan mengantarkannya ke kosan cewek yang sangat ia sayangi.
“Udah lama nunggu?”. Ardi menyerahkan kantong kresek yang berisi martabak.
“Nggak apa-apa kok. Maaf ya ngrepotin kamu”. Nava menyeringai seperti kucing yang berhasil menangkap tikus sebagai hidangan makan malamnya.
“Ya udah, pulang sana”.
“Ya... martabaknya dimakan, terus tidur”.
Nava melambaikan tangan melepaskan Ardi sampai ia hilang di tikungan.
Itu hanya bagian terkecil dari pengorbanan seorang Ardi. Masih banyak yang lebih besar dari itu.
***
“Hi sayang... hehe, maaf ya lama. Jilbab ini susah banget dipakai”. Nava memamerkan giginya yang putih dan tertata rapi.
“Ayo naik. Keburu siang. Panas”.
Dalam hati, Nava mengucapkan syukur karena telah diberikan seorang Ardi.
Dalam perjalana, Nava berfikir kenapa seseorang harus terus berjilbab. Toh banyak orang yang berjilbab tapi hanya kepalanya saja yang dijilbabin. Hatinya terbuka lebar sebagai sarang penyakit-penyakit hati. Ingatannya menuju ke seorang teman di fakultas. Ia seorang wanita yang dikenal shalehah. Jilbabnya lebar menutupi badan. Tidak tampak lekuk tubuh sedikitpun. Bajunya lebar. Namun belakangan, ia sering tidak masuk kuliah. Dari info yang ia dengar, katanya dia tengah hamil. Entah dengan siapa. Yang menjadi pertanyaan besar Nava adalah “kok ya bisa, cewek yang berpenampilan sangat sopn tiba-tiba digosipkan hamil”. Hih serem.
Ia ingin melepaskan jilbabnya. Yang lebih penting, hati ini bersih. Ia pun berhubungan dengan Ardi tak pernah melewati batas-batas normal. Hanya sesekali jalan bareng. Tidak seperti teman-temannya yang setiap hari ketemu dan tak jarang mereka bergantian menginap di kosan masing-masing. Ia mengutarakan keinginannya pada Ardi setelah mereka sampai di Prambanan.
“Sayang, aku pengin lepas jilbab aja ah. Boleh?’’. Nava menyeruput es degan di hadapannya.
Ardi hanya melongo. Menunjukkan wajah bingung dicampur kaget.
“Kenapa?”. Hanya itu kata yang mampu keluar dari kebengongannya. Nava menjelaskan panjang lebar bahwa jilbab tidak menjamin seseorang itu baik. Ia ingin menata dirinya agar sempurna. Baru dia akan mengenakan jilbab kembali.
Keheningan terjadi sesaat. Ardi tahu bahwa orang tua Nava orang yang agamis. Abinya cukup berpengaruh di lingkungan. Ia berpacaran dengan Nava tentu dengan sepengetahuan keluarganya. Ia tak berani bertingkah macam-macam. Meskipun ia bukan orang yang paham agama dengan baik, namun ia tak pernah sedikitpun berniat merusak gadis yang sangat ia sayangi. Ia ingin menjaga Nava dengan sebaik-baiknya. Sebisa yang ia mampu. Ia berharap hubungannya bisa berlanjut sampai pelaminan. Saat mendengar keinginan dari Nava, Ardi begitu shock.
Nava mengaduk-aduk es degan pipet. Menunggu reaksi Ardi yang masih diam seribu kata.
“Sayang...Navapun memberanikan diri menyadarkan Ardi dari lamunannya. Are you OK?’’.
Ardi menatap Nava lurus. “kenapa kamu? Apa yang membuat kamu berfikiran seperti ini? Aku nggak bisa ngerti dengan jalan fikiran kamu Va”. Pertanyaan memberondong Nava sekaligus. Nava kaget dengan reaksi Ardi. Ia fikir kekasihnya itu akan setuju dengan keputusannya menanggalkan jilbab. Ia fikir, Ardi, yang tidak memiliki latar  belakang agama sebaik dirinya, akan dengan mudah menyetujui keputusannya. Namun di luar dugaan, Ardi sama sekali tidak menyetujui keputusan Nava. Ia ingin Nava menjadi ibu bagi anak-anaknya. Ia butuh seorang ibu yang bisa mendidik agama dengan baik. Sejauh ini, Ardi selalu menerima kemanjaan Nava serta keegoisannya. Tapi tidak untuk masalah ini.
“OK. Silakan kamu pilih jalan kamu Va. Aku tak berhak memaksakan apapun sama kamu. Kalau kamu memang ingin melepas jilbab, lakukanlah. Dan hubungan kita cukup samapai di sini”.
Ardi menatap kekasihnya nanar. Tak mampu lagi ia berkata-kata. Nava yang sudah sangat bosen dengan kehidupannya yang selalu dibungkus kain lebar, tetap pada pendiriannya. Ia tak peduli jika memang Ardi harus meninggalkannya. Ia sudah terhasut oleh teman-teman satu kosannya. Awalnya, ia sama sekali tidak ada niat menanggalkan jilbab. Tapi sebesar apa si benteng iman yang ia miliki. Mungkin ketika benteng itu tidak seberapa kuat, namun setiap hari selalu diperbaharui, benteng itu tidak akan runtuh. Namun, kehidupannya sebagai anak kos yang dominan teman-temannya adalah cewek glamour yang suka dunia malam. Ia sangat sulit membentengi dirinya. Dosa sebesar apapun tidak akan terasa jika hati telah akrab dengannya. Seprti perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib RA, beliau mengatakan bahwa ia tidak takut mengerjakan dosa. Namun yang lebih ia takutkan adalah hatinya akan akrab dengan dosa. Sehingga tak terasa lagi bahwa yang ia kerjakan adalah dosa.
Setelah Nava merasa Ardi tidak bisa diharapkan, ia meninggalkannya dengan perasaan campur aduk. Ada marah, kecewa, takut. Ia tak bisa mendeskripsikan seperti apa hatinya sekarang. Ia memutuskan untuk menemui Silvi, sahabatnya. Ia masuk ke kamar Silvi dan menumpahkan segala isi hatinya. Beruntunglah, Silvi tipe gadis sanguinis. Jadi ia bersedia mendengarkan segala curahan hati sahabatnya tanpa merasa menjadi tempat sampah. Setengah jam kamar Silvi dibanjiri tangis Nava. Tisu berserakan di bawah turut menghiasi lantai hijau bermotif bunga di kamar Silvi. Selama Nava curhat, Silvi hanya mendengarkan dengan baik. Ia tahu bahwa seseorang yang sedang kalut dengan masalah, jangan buru-buru ditanggapi. Ia hanya butuh tempat untuk mencurahkan segala perasannya. 
Setelah tangis Nava reda, barulah Silvi beralih menjadi konsultan hati. Dia bertanya kenapa tiba-tiba Nava ingin melepaskan jilbabnya. Silvi menyarankan kepada sahabatnya untuk memikirkan kembali keputusan itu. Apa ia sudah siap dengan semua yang akan ia hadapi. Berpisah dengan Ardi. Tanggapan teman kampus. Dan yang lebih penting, siapkah ia menghadapi keluarganya. Meski Silvi sendiri tidak mengenakan jilbab, namun ia sudah kenal keluarga Nava. Memang keluarganya tidak pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu. Demokrasi sangat dijunjung dalam keluarga sederhana itu. Nava tidak pernah dilarang melakukan sesutau yang ia suka. Seperti dulu ketika ia tidak ingin hidup di pesantren setelah lulus Aliah. Dia mengatakan, mahasiswa harus berkembang. Sangat sulit mengembangkan bakat jika harus dibatasi oleh tembok peraturan pesantren. Ia telah merasakan pengekangan itu selama enam tahun. Ketika masuk bangku kuliah, ia ingin melebarkan sayap bakatnya. Dengan alasan yang Nava ajukan, keluarga besar menyetujui keputusan Nava. Sekarang Nava akan semakin jauh dari pengawasan dan kontrol keluarga. menjauhkan dirinya dari Allah secara perlahan. Kebebasan yang diberikan oleh ayah dan keluarganya, membuat Nava semakin bertindak semaunya.
“Va, apa kamu benar-benar serius?”. Tatapan Silvi lurus dan tajam menatap sahabatnya yang masih diselimuti air mata.
“Sil, aku ingin membenahi hatiku dulu. Baru setelah itu aku akan kembali menutup kepalaku”. Tangan mungil Nava menggenggam tangan Silvi. Matanya menatap dengan penuh permintaan persetujuan. Silvi tak mampu berbuat banyak untuk mempertahankan sahabatnya tetap berjilbab. Dalam hati, Silvi menyesali keputusan sahabatnya. Juga dirinya. Baru tadi malam, ia ingin belajar Islam yang benar kepada Nava. Ada keinginan berhijab juga. Tak terasa air hangat mengalir dari sudut matanya.
“Sil, maafkan aku. Tolong”. Nava merangkul sahabatnya. Silvi hanya pasrah dan mematung.
***
Setelah sholat Ashar, Nava pamit pulang. Sekali lagi ia merangkul Silvi. Derai air mata kembali menghiasi pipi putih Nava. Ia menancapkan gas menuju kosannya. Ia masih kalut. Mencoba mereka ulang kejadian yang ia alami dari pagi sampai sore hari. Tentang pertengkarannya dengan Ardi yang berujung putus. Tentang keputusannya untuk berhenti sejenak memakai jilbab sementara ia membenahi hatinya. Terbayang wajah abi dan umi. Entah apa yang akan ia terima dari kedua orang tua terkasihnya. Wajahnya memanas. Matanya melihat ke depan namun pandangannya kabur. Telinganya tak dapat mendengar apapun. Sesaat kemudian ia sadar ia akan segera menabrak tiang listrik di depannya. Kecelakan itu tak dapat ia hindari. Ia mendapati tubuhnya tergeletak di pinggir jalan. Motor beatnya remuk. Lampu depan penyok. Spionnya terlepas, mental entah ke mana. Ban depan remuk. Ia hanya pasrah ketika seorang ibu meolongnya dan membawa ke rumah sakit dengan ambulance yang segera datang setelah ditelephone. Ia langsung dimasukkan ke ruang UGD. Satu jam kemudian, dokter mempersilakan keluarga untuk masuk. Sang ibu turut masuk dibarengi Silvi. Entah dari mana Silvi tahu kecelakan itu. Sebelum Nava mengucapkan terima kasih, ibu itu telah menghilang. Ia meniggalakan selembar kertaas warna hijau muda di ranjangnya. Ia mengambil kertas dan membacanya. Kertas itu bertuliskan satu ayat dari Al-qur’an surat An-Nur ayat 31.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama) Islam mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan”.
Ada desir angin yang menyapu wajahnya. Ia amati kata demi kata yang tertulis di sana. Ada rasa haru yang tiba-tiba memenuhi hati. Namun juga ada bahagia yang membuncah berasal dari bagian hati terkecilnya. Ia menggenggam tangan Silvi yang juga menyunggingkan senyum bahagia. Tak lama, ia melihat sosok umi dan abi memasuki ruangan. Umi menahan haru melihat putri bungsunya terbaring tak berdaya. Sekitar pukul delapan malam Silvi pamit pulang. Silvi pulang tidak dengan tangan hampa. Segenggam keyakinan hidayah Allah telah ia genggam dalam hati.
***
Lewat tengah malam, ia terbangun. Ia mendapati umi sedang bermunajat kepada Sang Kholiq. Air hangat menetesi pipinya. Umi yang sadar putrinya terbangun, menghampiri.
Belaian tangan umi menentramkan kegalauan hati Nava. Nava sesenggukan. Umi bingung apa yang terjadi dengan sang bungsu. Umi membiarkan Nava menangis. Kemudian cerita mengalir diiringi tangis. Nava menceritakan kehidupannya selama kuliah. Tentang teman-teman yang memiliki kehidupan glamour. Tentang Ardi yang melepaskan dirinya dengan pilihan yang ia ambil. Sampai kejadian kecelakaan tadi sore. Tangis Nava semakin menjadi. Umi memeluk erat tubuh mungil Nava. Dengan suara yang sangat lembut, umi menghibur putri bungsunya.
“Manusia adalah makhluk yang sempurna. Padanya terdapat akal dan fikiran serta nafsu. Tak ada makhluk yang lebih sempurna dari manusia. Malaikat tak memiliki nafsu. Wajar jika mereka selalu taat pada Allah SWT. Jin dan iblis hanya memiliki nafsu. Wajar jika mereka akan terus menjerumuskan manusia ke jalan api neraka supaya menjadi teman di neraka. Kekal di neraka”. Kata-kata umi berhenti. Ia pandangi putrinya. Umi sadar putrinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Ada rasa sesal menggelayuti, kenapa ia dan abi begitu memberi kebebasan padanya. Mereka melepaskan Nava tanpa bimbingan agama di kota pelajar yang penuh dengan kebejatan moral. Antara yang baik dan buruk tak lagi jelas. Semuanya samar. Umi menyeka air matanya dengan tangan.
“Umi... umi nangis? Maafkan Nava umi. Nava sudah membuat umi dan abi kecewa. Maaf...”. Nava kembali menangis sesenggukan. Umi semakin memeluknya erat.
“Nggak sayang, Nava tak sepenuhnya salah. Umi dan abi juga salah. Maaf ya... kami tak sepenuhnya mengawasi kamu. Kami belum menjadi orang tua yang baik dan bijaksana”.
Dua ibu dan anak berpelukan di tengah gelapnya malam. Pengakuan kesalahan masing-masing membawa malaiakat menurunkan rahmat-Nya. Suasana hangat diselimuti keridloan-Nya. Sebesar apapun dosa manusia, asalkan manusia mau bertobat, rahmat Allah akan mampu menghapus dosa-dosa tersebut.
Setelah kejadian malam itu, Nava bertobat atas apa yang ia lakukan. Segalanya berubah. Ia tetap kuliah dan berteman dengan temannya. Hanya sekarang ia berubah menjadi Nava yang penuh dengan kelembutan. Ada misi besar yang ia emban. Membawa teman-temannya menggapai hidayah-Nya. Ia sadar hal itu bukan hal mudah. Tapi ia tetap optimis. Sesaat ia teringat surat Yusuf ayat 87.
 “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah   orang kafir”.
***
Di balik pohon cemara yang rindang, ada sepasang mata yang mengamati Nava bersama teman-temannya dalam sebuah kajian. Ia berdiri. Tak berani menghampiri apalagi menyapa. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia pun akan mengikuti jejak Nava. Menggapai hidayah Ilahi. Merengkuh rahmat ke dalam pelukannya. Sepasang mata itu mengalirkan air hangat dari sudut mata. Ada semacam janji tak terucap, ia akan kembali mendatanginya untuk memintanya menjadi pendamping dan ibu dari anak-anaknya. Ardi Santoso. Dia akan berubah menjadi laki-laki baru untuk menjemput kembali cintanya pada Nava. Bersama menggapai cinta-Nya.

aku menemukanmu kembali


“tiiiiitttt....tiiiittt....”.
Suara klakson motor Ardi memberitahukan dia telah siap menjemput Nava. Ardi, dengan tubuh gagahnya, memakai kaos warna merah dilapisi jaket kulit warna hitam dipadu celana jeans biru dongker, tampak cakep. Memaksa para cewek yang lalu lalang  melirikkan mata ke arahnya. Di dalam kamar yang berukuran 3x4 m, Nava masih sibuk memakai jilbab. Sudah lebih dari setengah jam dia memasangkan jilbab biru muda di wajahnya yang putih itu. Jilbab itu belum terpasang dengan rapi. Otot-otot tangan Nava terasa menegang dan lunglai.
Ia jadi teringat pada seorang ibu tukang pijat tradisional di depan kos-kosannya. Apakah ibu Ira tak merasakan pegal. Memijat terus tanpa henti. Ia paling hanya memiliki waktu untuk meregangkan otot-ototnya ketika waktu sholat dzuhur. Setelah itu, pasien akan berbondong mengantre untuk menikmati pijatan tangan bu Ira. Pijatan ibu Ira memang terkenal mujarab menghilangkan pegal yang melanda tubuh akibat kekurangan tidur atau terlalu memforsir tenaga. Nava senyum-senyum sendiri. Jadi ingin dipijat lagi oleh bu Ira.
lumpuhkanlah ingatankau jika itu tentang dia......
Lagu Geisha meluncur dari Hpnya. Menyadarkannya bahwa ia telah ditunggu oleh Ardi di bawah. Tanpa peduli lagi dengan jilbabnya, Navapun mengaitkan jilbab dengan jarum pentul sembarangan. Ia mengambil tas dari almari, memasukkan HP, dompet dan kaca. Sepatu di rak langsung ia pakai dari dalam kamar. Ia menuruni anak tangga setengah berlari.
Nava cukup beruntung memiliki Ardi. Dia adalah tipe cowok penyabar. Terbukti ia selalu sabar menghadapi tingkah Nava yang aneh-aneh. Pernah suatu malam, Nava mengirim pesan lewat ponselnya.
Ardi syng,  pngn mkn mrtbk kbng. Beli’n ya...gk mngkn kn ak keluar mlm2. Km jg gk ng’blhin ak kluar mlm2. Mksh syng...baik deh
Pesan itu hanya Ardi balas dengan emoticon senyum. Tak mampu ia menolak keinginan Nava. Begitu berarti ia bagi dirinya. Tak sedikitpun Ardi berani membuatnya kecewa. Dengan tubuh dilapisi jaket kesayangannya, Ardi melaju kencang dengan Ninja. Saat itu telah menunjukkan pukul 11.00 am. Martabak kubang dijual di dekat lampu merah samping toko buku “PINTAR”. Ada tujuh lampu merah yang harus ia lewati. Belok kanan menuju jalan Kapiten Petimura, lurus. Kemudian belok kiri melewati perumahan elit. Barulah ia sampai di penjual martabak kubang. Ia sampai di sana sekita puku 11.20 am. Perjalanan ke kosan Nava masih 10 menit lagi. Ardi cepat membayar dan mengantarkannya ke kosan cewek yang sangat ia sayangi.
“Udah lama nunggu?”. Ardi menyerahkan kantong kresek yang berisi martabak.
“Nggak apa-apa kok. Maaf ya ngrepotin kamu”. Nava menyeringai seperti kucing yang berhasil menangkap tikus sebagai hidangan makan malamnya.
“Ya udah, pulang sana”.
“Ya... martabaknya dimakan, terus tidur”.
Nava melambaikan tangan melepaskan Ardi sampai ia hilang di tikungan.
Itu hanya bagian terkecil dari pengorbanan seorang Ardi. Masih banyak yang lebih besar dari itu.
***
“Hi sayang... hehe, maaf ya lama. Jilbab ini susah banget dipakai”. Nava memamerkan giginya yang putih dan tertata rapi.
“Ayo naik. Keburu siang. Panas”.
Dalam hati, Nava mengucapkan syukur karena telah diberikan seorang Ardi.
Dalam perjalana, Nava berfikir kenapa seseorang harus terus berjilbab. Toh banyak orang yang berjilbab tapi hanya kepalanya saja yang dijilbabin. Hatinya terbuka lebar sebagai sarang penyakit-penyakit hati. Ingatannya menuju ke seorang teman di fakultas. Ia seorang wanita yang dikenal shalehah. Jilbabnya lebar menutupi badan. Tidak tampak lekuk tubuh sedikitpun. Bajunya lebar. Namun belakangan, ia sering tidak masuk kuliah. Dari info yang ia dengar, katanya dia tengah hamil. Entah dengan siapa. Yang menjadi pertanyaan besar Nava adalah “kok ya bisa, cewek yang berpenampilan sangat sopn tiba-tiba digosipkan hamil”. Hih serem.
Ia ingin melepaskan jilbabnya. Yang lebih penting, hati ini bersih. Ia pun berhubungan dengan Ardi tak pernah melewati batas-batas normal. Hanya sesekali jalan bareng. Tidak seperti teman-temannya yang setiap hari ketemu dan tak jarang mereka bergantian menginap di kosan masing-masing. Ia mengutarakan keinginannya pada Ardi setelah mereka sampai di Prambanan.
“Sayang, aku pengin lepas jilbab aja ah. Boleh?’’. Nava menyeruput es degan di hadapannya.
Ardi hanya melongo. Menunjukkan wajah bingung dicampur kaget.
“Kenapa?”. Hanya itu kata yang mampu keluar dari kebengongannya. Nava menjelaskan panjang lebar bahwa jilbab tidak menjamin seseorang itu baik. Ia ingin menata dirinya agar sempurna. Baru dia akan mengenakan jilbab kembali.
Keheningan terjadi sesaat. Ardi tahu bahwa orang tua Nava orang yang agamis. Abinya cukup berpengaruh di lingkungan. Ia berpacaran dengan Nava tentu dengan sepengetahuan keluarganya. Ia tak berani bertingkah macam-macam. Meskipun ia bukan orang yang paham agama dengan baik, namun ia tak pernah sedikitpun berniat merusak gadis yang sangat ia sayangi. Ia ingin menjaga Nava dengan sebaik-baiknya. Sebisa yang ia mampu. Ia berharap hubungannya bisa berlanjut sampai pelaminan. Saat mendengar keinginan dari Nava, Ardi begitu shock.
Nava mengaduk-aduk es degan pipet. Menunggu reaksi Ardi yang masih diam seribu kata.
“Sayang...Navapun memberanikan diri menyadarkan Ardi dari lamunannya. Are you OK?’’.
Ardi menatap Nava lurus. “kenapa kamu? Apa yang membuat kamu berfikiran seperti ini? Aku nggak bisa ngerti dengan jalan fikiran kamu Va”. Pertanyaan memberondong Nava sekaligus. Nava kaget dengan reaksi Ardi. Ia fikir kekasihnya itu akan setuju dengan keputusannya menanggalkan jilbab. Ia fikir, Ardi, yang tidak memiliki latar  belakang agama sebaik dirinya, akan dengan mudah menyetujui keputusannya. Namun di luar dugaan, Ardi sama sekali tidak menyetujui keputusan Nava. Ia ingin Nava menjadi ibu bagi anak-anaknya. Ia butuh seorang ibu yang bisa mendidik agama dengan baik. Sejauh ini, Ardi selalu menerima kemanjaan Nava serta keegoisannya. Tapi tidak untuk masalah ini.
“OK. Silakan kamu pilih jalan kamu Va. Aku tak berhak memaksakan apapun sama kamu. Kalau kamu memang ingin melepas jilbab, lakukanlah. Dan hubungan kita cukup samapai di sini”.
Ardi menatap kekasihnya nanar. Tak mampu lagi ia berkata-kata. Nava yang sudah sangat bosen dengan kehidupannya yang selalu dibungkus kain lebar, tetap pada pendiriannya. Ia tak peduli jika memang Ardi harus meninggalkannya. Ia sudah terhasut oleh teman-teman satu kosannya. Awalnya, ia sama sekali tidak ada niat menanggalkan jilbab. Tapi sebesar apa si benteng iman yang ia miliki. Mungkin ketika benteng itu tidak seberapa kuat, namun setiap hari selalu diperbaharui, benteng itu tidak akan runtuh. Namun, kehidupannya sebagai anak kos yang dominan teman-temannya adalah cewek glamour yang suka dunia malam. Ia sangat sulit membentengi dirinya. Dosa sebesar apapun tidak akan terasa jika hati telah akrab dengannya. Seprti perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib RA, beliau mengatakan bahwa ia tidak takut mengerjakan dosa. Namun yang lebih ia takutkan adalah hatinya akan akrab dengan dosa. Sehingga tak terasa lagi bahwa yang ia kerjakan adalah dosa.
Setelah Nava merasa Ardi tidak bisa diharapkan, ia meninggalkannya dengan perasaan campur aduk. Ada marah, kecewa, takut. Ia tak bisa mendeskripsikan seperti apa hatinya sekarang. Ia memutuskan untuk menemui Silvi, sahabatnya. Ia masuk ke kamar Silvi dan menumpahkan segala isi hatinya. Beruntunglah, Silvi tipe gadis sanguinis. Jadi ia bersedia mendengarkan segala curahan hati sahabatnya tanpa merasa menjadi tempat sampah. Setengah jam kamar Silvi dibanjiri tangis Nava. Tisu berserakan di bawah turut menghiasi lantai hijau bermotif bunga di kamar Silvi. Selama Nava curhat, Silvi hanya mendengarkan dengan baik. Ia tahu bahwa seseorang yang sedang kalut dengan masalah, jangan buru-buru ditanggapi. Ia hanya butuh tempat untuk mencurahkan segala perasannya. 
Setelah tangis Nava reda, barulah Silvi beralih menjadi konsultan hati. Dia bertanya kenapa tiba-tiba Nava ingin melepaskan jilbabnya. Silvi menyarankan kepada sahabatnya untuk memikirkan kembali keputusan itu. Apa ia sudah siap dengan semua yang akan ia hadapi. Berpisah dengan Ardi. Tanggapan teman kampus. Dan yang lebih penting, siapkah ia menghadapi keluarganya. Meski Silvi sendiri tidak mengenakan jilbab, namun ia sudah kenal keluarga Nava. Memang keluarganya tidak pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu. Demokrasi sangat dijunjung dalam keluarga sederhana itu. Nava tidak pernah dilarang melakukan sesutau yang ia suka. Seperti dulu ketika ia tidak ingin hidup di pesantren setelah lulus Aliah. Dia mengatakan, mahasiswa harus berkembang. Sangat sulit mengembangkan bakat jika harus dibatasi oleh tembok peraturan pesantren. Ia telah merasakan pengekangan itu selama enam tahun. Ketika masuk bangku kuliah, ia ingin melebarkan sayap bakatnya. Dengan alasan yang Nava ajukan, keluarga besar menyetujui keputusan Nava. Sekarang Nava akan semakin jauh dari pengawasan dan kontrol keluarga. menjauhkan dirinya dari Allah secara perlahan. Kebebasan yang diberikan oleh ayah dan keluarganya, membuat Nava semakin bertindak semaunya.
“Va, apa kamu benar-benar serius?”. Tatapan Silvi lurus dan tajam menatap sahabatnya yang masih diselimuti air mata.
“Sil, aku ingin membenahi hatiku dulu. Baru setelah itu aku akan kembali menutup kepalaku”. Tangan mungil Nava menggenggam tangan Silvi. Matanya menatap dengan penuh permintaan persetujuan. Silvi tak mampu berbuat banyak untuk mempertahankan sahabatnya tetap berjilbab. Dalam hati, Silvi menyesali keputusan sahabatnya. Juga dirinya. Baru tadi malam, ia ingin belajar Islam yang benar kepada Nava. Ada keinginan berhijab juga. Tak terasa air hangat mengalir dari sudut matanya.
“Sil, maafkan aku. Tolong”. Nava merangkul sahabatnya. Silvi hanya pasrah dan mematung.
***
Setelah sholat Ashar, Nava pamit pulang. Sekali lagi ia merangkul Silvi. Derai air mata kembali menghiasi pipi putih Nava. Ia menancapkan gas menuju kosannya. Ia masih kalut. Mencoba mereka ulang kejadian yang ia alami dari pagi sampai sore hari. Tentang pertengkarannya dengan Ardi yang berujung putus. Tentang keputusannya untuk berhenti sejenak memakai jilbab sementara ia membenahi hatinya. Terbayang wajah abi dan umi. Entah apa yang akan ia terima dari kedua orang tua terkasihnya. Wajahnya memanas. Matanya melihat ke depan namun pandangannya kabur. Telinganya tak dapat mendengar apapun. Sesaat kemudian ia sadar ia akan segera menabrak tiang listrik di depannya. Kecelakan itu tak dapat ia hindari. Ia mendapati tubuhnya tergeletak di pinggir jalan. Motor beatnya remuk. Lampu depan penyok. Spionnya terlepas, mental entah ke mana. Ban depan remuk. Ia hanya pasrah ketika seorang ibu meolongnya dan membawa ke rumah sakit dengan ambulance yang segera datang setelah ditelephone. Ia langsung dimasukkan ke ruang UGD. Satu jam kemudian, dokter mempersilakan keluarga untuk masuk. Sang ibu turut masuk dibarengi Silvi. Entah dari mana Silvi tahu kecelakan itu. Sebelum Nava mengucapkan terima kasih, ibu itu telah menghilang. Ia meniggalakan selembar kertaas warna hijau muda di ranjangnya. Ia mengambil kertas dan membacanya. Kertas itu bertuliskan satu ayat dari Al-qur’an surat An-Nur ayat 31.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama) Islam mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan”.
Ada desir angin yang menyapu wajahnya. Ia amati kata demi kata yang tertulis di sana. Ada rasa haru yang tiba-tiba memenuhi hati. Namun juga ada bahagia yang membuncah berasal dari bagian hati terkecilnya. Ia menggenggam tangan Silvi yang juga menyunggingkan senyum bahagia. Tak lama, ia melihat sosok umi dan abi memasuki ruangan. Umi menahan haru melihat putri bungsunya terbaring tak berdaya. Sekitar pukul delapan malam Silvi pamit pulang. Silvi pulang tidak dengan tangan hampa. Segenggam keyakinan hidayah Allah telah ia genggam dalam hati.
***
Lewat tengah malam, ia terbangun. Ia mendapati umi sedang bermunajat kepada Sang Kholiq. Air hangat menetesi pipinya. Umi yang sadar putrinya terbangun, menghampiri.
Belaian tangan umi menentramkan kegalauan hati Nava. Nava sesenggukan. Umi bingung apa yang terjadi dengan sang bungsu. Umi membiarkan Nava menangis. Kemudian cerita mengalir diiringi tangis. Nava menceritakan kehidupannya selama kuliah. Tentang teman-teman yang memiliki kehidupan glamour. Tentang Ardi yang melepaskan dirinya dengan pilihan yang ia ambil. Sampai kejadian kecelakaan tadi sore. Tangis Nava semakin menjadi. Umi memeluk erat tubuh mungil Nava. Dengan suara yang sangat lembut, umi menghibur putri bungsunya.
“Manusia adalah makhluk yang sempurna. Padanya terdapat akal dan fikiran serta nafsu. Tak ada makhluk yang lebih sempurna dari manusia. Malaikat tak memiliki nafsu. Wajar jika mereka selalu taat pada Allah SWT. Jin dan iblis hanya memiliki nafsu. Wajar jika mereka akan terus menjerumuskan manusia ke jalan api neraka supaya menjadi teman di neraka. Kekal di neraka”. Kata-kata umi berhenti. Ia pandangi putrinya. Umi sadar putrinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Ada rasa sesal menggelayuti, kenapa ia dan abi begitu memberi kebebasan padanya. Mereka melepaskan Nava tanpa bimbingan agama di kota pelajar yang penuh dengan kebejatan moral. Antara yang baik dan buruk tak lagi jelas. Semuanya samar. Umi menyeka air matanya dengan tangan.
“Umi... umi nangis? Maafkan Nava umi. Nava sudah membuat umi dan abi kecewa. Maaf...”. Nava kembali menangis sesenggukan. Umi semakin memeluknya erat.
“Nggak sayang, Nava tak sepenuhnya salah. Umi dan abi juga salah. Maaf ya... kami tak sepenuhnya mengawasi kamu. Kami belum menjadi orang tua yang baik dan bijaksana”.
Dua ibu dan anak berpelukan di tengah gelapnya malam. Pengakuan kesalahan masing-masing membawa malaiakat menurunkan rahmat-Nya. Suasana hangat diselimuti keridloan-Nya. Sebesar apapun dosa manusia, asalkan manusia mau bertobat, rahmat Allah akan mampu menghapus dosa-dosa tersebut.
Setelah kejadian malam itu, Nava bertobat atas apa yang ia lakukan. Segalanya berubah. Ia tetap kuliah dan berteman dengan temannya. Hanya sekarang ia berubah menjadi Nava yang penuh dengan kelembutan. Ada misi besar yang ia emban. Membawa teman-temannya menggapai hidayah-Nya. Ia sadar hal itu bukan hal mudah. Tapi ia tetap optimis. Sesaat ia teringat surat Yusuf ayat 87.
 “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah   orang kafir”.
***
Di balik pohon cemara yang rindang, ada sepasang mata yang mengamati Nava bersama teman-temannya dalam sebuah kajian. Ia berdiri. Tak berani menghampiri apalagi menyapa. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia pun akan mengikuti jejak Nava. Menggapai hidayah Ilahi. Merengkuh rahmat ke dalam pelukannya. Sepasang mata itu mengalirkan air hangat dari sudut mata. Ada semacam janji tak terucap, ia akan kembali mendatanginya untuk memintanya menjadi pendamping dan ibu dari anak-anaknya. Ardi Santoso. Dia akan berubah menjadi laki-laki baru untuk menjemput kembali cintanya pada Nava. Bersama menggapai cinta-Nya.

Rabu, 18 Juni 2014

Kewarganegaraan

E-BOOK
TUGAS KEWARGANEGARAAN
KUMPULAN MATERI KEWARGANEGARAAN SELAMA SATU SEMESTER
OLEH: MUNAWAROH
NIM: 12110045
DOSEN PENGAMPU: DRS. JAROT WAHYUDI, MA.
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014

DAFTAR ISI ............................................................................................... 1
A. PEMBUKAAN ................................................................................ 2
B. MATERI .......................................................................................... 3
1. Good Governance ...................................................................... 3
2. Konstitusi ................................................................................... 4
3. Identitas Nasional....................................................................... 5
4. Otonomi Daerah ......................................................................... 6
5. HAM .......................................................................................... 7
6. Masyarakat Madani .................................................................... 9
7. Kearifan Lokal ........................................................................... 10
8. Global Citizenship ..................................................................... 10
9. Hak dan Kewajiban Warga Negara ............................................ 11
10. Soft Skill .................................................................................... 14
C. Kesan dan Pesan .............................................................................. 18
D. SIMPULAN ..................................................................................... 18
E.PENUTUP .......................................................................................... 18
A. Pembukaan
Bangsa Indonesia, sebagaimana bangsa lain di dunia ini adalah bangsa yang memiliki ideologi tinggi. Ideologi bangsa Indonesia yang tertinggi adalah panasila. Diharapkan, pancasila mampu menjadi pedoman bagi seluruh masyarakat di setiap aspek kehidupannya. Dalam kelima sila yang terdapat di dalam pancasila, sudah memuat semua aspek yang ada di dalam kehidupan manusia, mulai dari sila ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Seseorang yang menggunakan pancasila sebagai pedoman hidup, tidak diragukan lagi bahwa hidupnya akan bahagia.
Dalam kenyataannya, banyak masyarakat yang tidak paham fungsi dah tujuan pancasila itu sendiri. Para siswa di sekolah hanya melafalkannya ketika upacara bendera hari Senin tanpa tahu makna dan isi kandungannya. Yang lebih memprihatinkan adalah para orang tua yang menganggap pancasila hanya sekedar pelengkap prosesi peringatan hari kemerdekaan.
Keprihatinan ini terjadi bukan semata-mata kesalahan masyarakat. Pemerintah berperan penting untuk memahamkan kepada masyarakat tentang ideologyi bangsa ini. Seluruh warga Negara harus tahu dan mengerti tentang ideologi bangsanya agar masyarakat dapat berperan serta dalam mewujudkan apa yang menjadi cirta-cita bangsa ini. Sering kali, ada miskomunikasi antara para pejabat pemeritah dengan masyarakat kecil. Para pejabat pemerintahan berkoar-koar memajukan bangsa dengan memegang teguh ideology bangsa. Mereka menuntut agar seluruh masyarakat ikut serta mewujudkannya. Tapi mereka lupa, bahwa bagaimana bisa masyarakat mendukung kehendak pemerintah sementara ideologi bangsanya pun mereka tidak mengetahuinya.
Dengan demikian, sebagai kaum akademis, kita harus berjuang memahamkan masyarakat tenang ideolgi bangsa ini. Membawa masyarakat menjadi warga yang cinta dengan bangsanya sendiri. Mampu membuat masyarakat bangga dengan apa yang dimilikinya, bukan apa yang dimiliki.
1. Good Governance
A. pengertian
Tata laksana pemerintahan yang baik adalah seperangkat proses yang diberlakukan dalam organisasi baik swasta maupun negeri untuk menentukan keputusan. Tata laksana pemerintahan yang baik ini walaupun tidak dapat menjamin sepenuhnya segala sesuatu akan menjadi sempurna - namun, apabila dipatuhi jelas dapat mengurangi penyalahgunaan. Banyak badan-badan donor internasional, seperti mensyaratkan diberlakukannya unsur-unsur tata laksana pemerintahan yang baik sebagai dasar bantuan dan pinjaman yang akan mereka berikan.
B. Karakteristik dasar tata laksana pemerintahan yang baik
Tata kelola pemerintahan yang baik ini dapat dipahami dengan memberlakukan delapan karakteristik dasarnya yaitu:
1. Partisipasi aktif.
2. Tegaknya hokum.
3. Responsif.
4. Berorientasi akan musyawarah untuk mendapatkan mufakat.
5. Keadilan dan perlakuan yang sama untuk semua orang.
6. Efektif dan ekonomis.
7. Dapat dipertanggungjawabkan.
Berlakunya karakteristik-karakteristik diatas biasanya menjadi jaminan untuk:
 Meminimimalkan terjadinya korupsi
 Pandangan minoritas terwakili dan dipertimbangkan
 Pandangan dan pendapat kaum yang paling lemah didengarkan dalam pengambilan keputusan
2. Konstitusi
a. Pengertian
Istilah konstitusi berasal dari bahasa inggris yaitu “Constitution” dan berasal dari bahasa belanda “constitue” dalam bahasa latin (contitutio,constituere) dalam bahasa prancis yaitu “constiture” dalam bahsa jerman “vertassung” dalam ketatanegaraan RI diartikan sama dengan Undang – undang dasar. Konstitusi / UUD dapat diartikan peraturan dasar dan yang memuat ketentuan – ketentuan pokok dan menjadi satu sumber perundang- undangan. Konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat negara
Pengertian konstitusi menurut para ahli
 K. C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem ketatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur /memerintah dalam pemerintahan suatu negara.
 Herman heller, konstitusi mempunyai arti luas daripada UUD. Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis tetapi juga sosiologis dan politik.
b. Tujuan konstitusi yaitu:
Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak sewenang – wenang maksudnya tanpa membatasi kekuasaan penguasa, konstitusi tidak akan berjalan dengan baik dan bisa saja kekuasaan penguasa akan merajalela Dan bisa merugikan rakyat banyak.
Melindungi HAM maksudnya setiap penguasa berhak menghormati HAM orang lain dan hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal melaksanakan haknya.
Pedoman penyelenggaraan negara maksudnya tanpa adanya pedoman konstitusi negara kita tidak akan berdiri dengan kokoh.
Nilai konstitusi yaitu:
Nilai normatif adalah suatu konstitusi yang resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi mereka konstitusi itu tidak hanya berlaku dalam arti hukum (legal),
tetapi juga nyata berlaku dalam masyarakat dalam arti berlaku efektif dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen.
Nilai nominal adalah suatu konstitusi yang menurut hukum berlaku, tetapi tidak sempurna. Ketidaksempurnaan itu disebabkan pasal – pasal tertentu tidak berlaku / tidsak seluruh pasal – pasal yang terdapat dalam UUD itu berlaku bagi seluruh wilayah negara.
Nilai semantik adalah suatu konstitusi yang berlaku hanya untuk kepentingan penguasa saja. Dalam memobilisasi kekuasaan, penguasa menggunakan konstitusi sebagai alat untuk melaksanakan kekuasaan politik.
3. Identitas Nasional
a. Pengertian Identitas Nasional
Kata “identitas” berasal dari kata “identity” yang berarti ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan orang lain, contohnya bendera dan lagu kebangsaan setiap negara akan berbeda dengan negara lain. Sedangkan dalam terminologi antropologi kata “identitas” diartikan sebagai sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kasadaran diri sendiri, golongan, kelompok, komunitas atau negara lain.
Kata “nasional” bearti identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama dan bahsa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan.
Oleh karena itu identitas nasional dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khasnya dan dengan ciri khas tersebutlah suatu bangsa akan berbeda dengan bangsa lain. Sehingga dengan demikian, maka identitas nasional akan melahirkan tindakan kelompok yang disebut atribut nasional.
Pengertian lain dari Identitas nasional adalah suatu ciri khas yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.
 Unsur-unsur pembentuk identitas yaitu:
Suku bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang 300 dialeg bangsa.
Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yan tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong H Cu pada masa orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara. Namun sejak pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan.
Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagi rujukan dan pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
Bahasa: merupakan unsure pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahsa dipahami sebagai system perlambang yang secara arbiter dientuk atas unsure-unsur ucapan manusia dan yang digunakan sebgai sarana berinteraksi antar manusia.
Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian sebagai berikut : Identitas Fundamental, yaitu pancasila merupakan falsafah bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi Negara Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, Bahasa Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Identitas Alamiah, yang meliputi Negara kepulauan (Archipelago) dan pluralisme dalam suku, bahasa, budaya, dan agama, sertakepercayaan.
4. Otonomi Daerah
a. Pengertian
Otonomi daerah adalah hak dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatnya sesuai dengan peraturan perundang – undangan (ps. 1 ayat 5 dan 6 uu no. 32 th.2004).
Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas – batas wilayah yang berwewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem negara kesatuan republik indonesia.
b. Otonomi Daerah perlu karena:
1. Sebagai wujud adanya perubahan paradigma dalam pelaksanaan pemerintahan diindonesia yang selama ini (sebelum era reformasi) bersifat sentralistik telah tidak sesuai lagi dengan tuntutan kehidupan masyarakat indonesia saat ini.
2. Sebagai wujud pelaksanaan uud 1945 ps. 18
(1) negara kesatuan republik indonesia dibagi atas daerah – daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap – tiap provinsi, kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintah daerah, yang diatur dengan undang – undang.
(2) pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
c. Tujuan Penyelenggaraan Otonomi Daerah
 peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik
 pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, dan pemerataan
 pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dengan daerah dan antar daerah dalam rangka menjaga keutuhan nkri
 mendorong untuk memberdayakan masyarakat
 menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat, dan mengembangkan peran dan fungsi dprd
5. Hak Asasi Mamusia
A. Pengertian Dan Ciri Pokok Hakikat HAM
1. Pengertian
• HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya (Kaelan: 2002).
• Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.
• John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. (Mansyur Effendi, 1994).
• Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”
2.CiriPokok Hakikat HAM
Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu:
• HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
• HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.
• HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM
walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003).
B. Perkembangan Pemikiran HAM
- Dibagi dalam 4 generasi, yaitu :
• Generasi pertama berpendapat bahwa pemikiran HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik.
• Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak sosial, ekonomi, politik dan budaya.
• Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum dalam suatu keranjang yang disebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan.
• Generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominant dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak negative seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat.
C. Ruang lingkup HAM
Ruang lingkup HAM meliputi;
1. Hak milik pribadi
2. Hak pribadi
3. Hak yang berhubungan dengan masalah perekonomian dan sosial
4. Hak sipil dan politik untuk ikut serta dalam masalah pemerintahan
Dan macam-macam hak asasi manusia yang pasti dimiliki oleh setiap manusia adalah
sebagai berikut;
1. Hak untuk hidup
2. Hak untuk mendapat pekerjaan
3. Hak kemerdekaan dan keamanan
4. Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum
5. Hak untuk masuk atau keluar wilayah suatu negara
6. Hak untuk memiliki suatu benda
7. Hak untuk mengeluarkan pendapat
8. Hak bebas dalam memeluk agama
9. Hak untuk berdagang
10. Hak untuk mendapat pendidikan
11. Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat dan masih banyak lagi.
6. Masyarakat Madani
a. Pengertian
Pada dasarnya/arti masyarakat madani merupakan wujud masyarakat yang memiliki keteraturan hidup dalam suasana perikehidupan yang mendiri, berkeadilan sosial dan sejahtera tanpa ada tekanan-tekanan kepentingan lain, boleh dikata masyarakat beradab.
Dalam bahasa Inggris, masyarakat madani dikenal dengan istilah civil society.Artinya adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban. Dalam perkembangannya, istilah masyarakat madani dipahami para ahli berdasarkan lingkungan masing-masing. Definisi tersebut merupakan hasil analisis dan kajian dari fenomena masyarakat.
Menurut W.J.S. Poerwadarminto, kata masyarakat berarti suatu pergaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan yang tertentu. Sedangkan kata madani berasal dari bahasa Arab yaitu madinah, yang artinya kota. Dengan demikian masyarakat madani secara etimologis berarti masyarakat kota. Meskipun demikian, istilah kota tidak merujuk semata-mata kepada letak geografi s, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham masyarakat madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu yang berperadaban.
Menurut rumusan PBB, masyarakat madani adalah masyarakat yang demokratis dan menghargai human dignity atau hak-hak tanggung jawab manusia. Adapun dalam frasa bahasa Latin, masyarakat madani merupakan padanan frasa civillis societies. Artinya adalah suatu masyarakat yang didasarkan pada hukum dan hidup beradab
b. Ciri-Ciri Masyarakat Madani
Adapun Ciri-ciri masyarakat madani diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Pemerintahan berdasarkan kehendak dan kepentingan rakyat banyak.
2. Adanya pemisahan atau pembagian kekuasaan. Misalnya, pembagian atau pemisahan kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
3. Adanya tanggung jawab dari pelaksana kegiatan atau pemerintahan.
4. Swadaya dalam kegiatan.
5. Mandiri dalam pendanaan.
6. Bersifat pemberdayaan masyarakat.
7. Tidak bergerak pada bidang
8. Bergerak pada bidang sosial.
9. Menghargai keragaman
7. Kearifan Lokal
a. Pengertian
Kearifan adalah seperangkat pengetahuan yang dikembangkan oleh suatu kelompok masyarakat setempat (komunitas) yang terhimpun dari pengalaman panjang menggeluti alam dalam ikatan hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (manusia dan lingkungan) secara berkelanjutan dan dengan dengan ritme harmonis.
Secara umum local wisdom (kearifan/kebijaksanaan) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat.
Karifan dibagi menjadi 2 yaitu:
Kearifan lokal adalah merupakan suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat serta berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat.
kearifan lokal yang tumbuh di dalam masyarakat memiliki ciri yang spesifik, trkait dengan pengelolaan lingkungan sebagai karifan lingkungan.
Kearifan lingkungan (ecological wisdom) merupakan pengetahuan yang diperoleh dari abstraksi pengalaman adapatasi aktif terhadap lingkungannya yang khas. Kearifan lingkungan yang diwujutkan ke dalam 3 bentuk tersebut dipahami, dikembangkan,dipedomani dan diwariskan secara turun temurun oleh komunitas pendukungnya. Pengelolaan lingkungan secara arif dan berkesinambungan itu dikembangkan mengingat pentingnya fungsi sosial lingkungan untuk menjamin kelangsungan hidup masyatakat. Manfaat yang diperoleh manusia dari lingkungan mereka, lebih-lebih kalau mereka berada pada taraf ekonomi sub-sistensi, mengakibatkann orang merasa atau banyak tergantung kepada lingkungan mereka.
Kesadran untruk menganglkat dan menggali kembali pengetahuanlokal atau kearifan budaya masyarakat teknik muncul karena kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat dunia sekarang telah diiringi oleh berbagai kerusakan lingkungan.
Pengetahuan yang sudah menyatu dengan sistem kepercayaan, norma dan budaya, dan diakpresikan di dalam tradisi dan mitos, yang dianut dalam jangka waktu cukup lama inilah yang disebut ‘karifan budaya lokal’.
8. Global Citizenship
Sekarang kita tidak hanya menjadi warga Negara Indonesia, tetapi juga menjadi warga Negara global/dunia.
Batas-batas Negara:
a. Geografis
b. Politik
Implikasi dari adanya global citizenship adalah memudahkannya hubungan satu Negara dengan Negara lain di dunia ini. Di era global ini, Negara tidak dapat membatasi informasi yang tersebar dan masuk ke negaranya. Industri terus berkembang di seluruh negara. Saat ini, Negara asing dapat mendirikan perusahaan di Negara lain tanpa susah payah.
Syarat menjadi Negara global:
 Siap berbeda pendapat
 Bahasa (harus menuasai bahasa internasional)
 Memiliki budaya baca dan tulis
 Pendidikan tiggi
 Kerja keras
 Memiliki kerjasama tinggi
 Kompetensi (mempunyai keahlian).
MDC (Multy Dimency Chitizenship) ada empat unsure yaitu:
1. Pribadi
2. Sosial
3. Spasial
Manusia saat ini harus siap dalam tingkat local maupun nasional.
4. Temporal
Seseorang harus selalu berkembang. Seseorang tidak harus terlalu tidak terikat dengan masa sekarang sehingga lupa dengan masa yang akan datang.
9. Hak dan Kewajiban Warga Negara
c. Pengertian
Menurut Prof. Dr. Notonagoro:
Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya..
Hak dan Kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi terjadi pertentangan karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi pada kenyataannya banyak warga negara yang belum merasakan kesejahteraan dalam menjalani kehidupannya. Semua itu terjadi karena pemerintah dan para pejabat tinggi lebih banyak mendahulukan hak
daripada kewajiban. Padahal menjadi seorang pejabat itu tidak cukup hanya memiliki pangkat akan tetapi mereka berkewajiban untuk memikirkan diri sendiri. Jika keadaannya seperti ini, maka tidak ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika keseimbangan itu tidak ada akan terjadi kesenjangan sosial yang berkepanjangan.
Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan cara mengetahui posisi diri kita sendiri. Sebagai seorang warga negara harus tahu hak dan kewajibannya. Seorang pejabat atau pemerintah pun harus tahu akan hak dan kewajibannya. Seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan aturan-aturan yang berlaku. Jika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi, maka kehidupan masyarakat akan aman sejahtera. Hak dan kewajiban di Indonesia ini tidak akan pernah seimbang. Apabila masyarakat tidak bergerak untuk merubahnya. Karena para pejabat tidak akan pernah merubahnya, walaupun rakyat banyak menderita karena hal ini. Mereka lebih memikirkan bagaimana mendapatkan materi daripada memikirkan rakyat, sampai saat ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan haknya. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang berdemokrasi harus bangun dari mimpi kita yang buruk ini dan merubahnya untuk mendapatkan hak-hak dan tak lupa melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUD 1945 pada pasal 28, yang menetapkan bahwa hak warga negara dan penduduk untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan, dan sebagainya, syarat-syarat akan diatur dalam undang-undang. Pasal ini mencerminkan bahwa negara Indonesia bersifat demokrasi. Pada para pejabat dan pemerintah untuk bersiap-siap hidup setara dengan kita. Harus menjunjung bangsa Indonesia ini kepada kehidupan yang lebih baik dan maju. Yaitu dengan menjalankan hak-hak dan kewajiban dengan seimbang. Dengan memperhatikan rakyat-rakyat kecil yang selama ini kurang mendapat kepedulian dan tidak mendapatkan hak-haknya.
HAK DAN KEWAAJIBAN WARGA NEGARA :
1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara Wujud hubungan warga negara dan negara pada umumnya berupa peranan (role).
2. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia Hak kewajiban warga negara Indonesia tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945.
Hak Warga Negara Indonesia :
- Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak : “Tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” (pasal 27 ayat 2).
- Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan: “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”(pasal 28A).
- Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (pasal 28B ayat 1).
- Hak atas kelangsungan hidup. “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan Berkembang”
- Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi
Kewajiban Warga Negara Indonesia :
- Wajib menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 berbunyi :
segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
- Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945
menyatakan : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara”.
10. Soft skill
Soft skill adalah Ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (INTERPERSONAL SKILLS) dan ketrampilan dalam mengatur dirinya sendiri (INTRA-PERSONAL SKILLS) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal.
Contoh soft skill antara lain: kemampuan beradaptasi, komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, conflict resolution , dan lain sebagainya.
Macam-macam softskill :
1. Inisiatif
Inisiatif adalah satu tema pernyataan yang saat ini sedang saya alamatkan kepada diri sendiri. Inisiatif dekat hubungannya dengan kepeloporan. Para pelopor adalah pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan inisiatif kerja yang menembus ruang-ruang waktu.Inisiator seringkali mengawali kerjanya dari kritik terhadap realitas. Terlebih ketika mereka melihat adanya jarak yang menjeda antara cita-cita dengan karakter zaman.
2. Kemauan
Kemauan” adalah kata kunci dari segala sukses Punya bakat dan ilmu tidak akan membuat kita sukses. Keinginan harus disertai dengan tindakan untuk mewujudkannya. Bukan hanya sekedar ingin tetapi harus mau dan berusaha memperjuangkannya.
3. Komitmen
Sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah… karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah ‘mati’ terhadap kepentingan diri sendiri.
4. Motivasi
Sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut.
5. Kreativitas
Proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan,tindakan membuat sesuatu yang baru.
6. Komunikasi
Suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya.
7. Berfikir kritis
Suatu aktifitas kognitif yang berkaitab dengan penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan menilai/memutuskan.
8. Mandiri
Melakukan perencanaan hidup dengan baik, bertanggung jawab, dgn sadar akan resiko setiap melakukan sesuatu, dan tanpa campur tangan orang lain. Mandiri juga berarti mengetahui dan memahami mana yang benar dan yang salah, jadi bisa menentukan sikap dengan berlandaskan pemikiran dan pengetahuan sendiri, tanpa *dibumbui atau dipengaruhi* orang lain. Mandiri itu pada intinya tidak mudah minta belas kasihan pada orang lain.
9. Integritas diri
Suatu pemahaman tentang terwujudnya perkembangan yang seimbang dan sinergis atas berbagai dimensi diri. Terwujudnya perkembangan diri pribadi secara utuh, tanpa satu pun aspek atau dimensi yang terabaikan. Adanya perhatian yang seimbang, tepat dan proporsional terhadap semua dimensi diri.
10. Disiplin
Kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih. Ada beberapa karakter yang dapat dibentuk berkat Disiplin:
1. Lebih bertanggung jawab,
2. Lebih tegar dalam menghadapi segala situasi kondisi
3. Lebih menghargai orang lain dan waktu.
4. Tidak mudah berputus asa (menyerah)
5. Melatih kejujuran
Manfaat soft skill :
1. Sebagai atribut kualitas jasa
2. Dapat bersifat mandiri
3. Softskill dapat membangun karakter
4. Membangun kepribadian yang berkualitas
5. Menumbuhkan rasa percaya diri
6. Dapat bersosialisai dalam team
7. Menumbuhkan kepekaan wawasan pemikiran dan kepribadian kita
8. Juga dapat membentuk jiwa yang kritis di dalam diri kita
C. Pesan dan Kesan
Dalam bernegara, sudah selayaknya kita mematuhi apa yang menjadi kewajiban kita sebagai warga Negara. Tidak pantas bagi seorang warga negara melanggar aturan yang dibuat pemerintah mengingat betapa besarnya jasa merka untuk melindungi warganya.
Ideologi yang dimiliki bangsa ini merupakan ideology tinggi. Penulis merasa bahwa bangsa ini mampu menjadi bengsa yang besar suatu saat nanti jika seluruh warganya manyadari betul apa yang menjadi ideologinya.
D. Simpulan
Hargailah bangsa Indonesia sebagai negaramu. Cintai apa yang dimiliki agar tercipta sebuah bangsa yang bedar, karena bangsa yang besar dimulai dengan kecintaan warganya akan bangsa sendiri. Junjung tinggi ideology bangsa ini yang telah dirumuskan oleh para leluhur dengan susah payah, maka yakinlah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar suatu hari nanti.
E. Penutup
Alhamdulillah, puji syujur penulis panjatkan kepada Allah swt. Yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Kewarganegaraan ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan ini. Kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan, agar penulisan ini dapat lebih baik. Akhirnya, penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Senin, 22 Juli 2013

Dahsyatnya Puasa

Alkisah, dikisahkan dari seorang dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Syiria bahwa ada seorang pemuda Indonesia yang belajar di Timur tengah. Dia adalah seorang yang sangat tekun beribadah. Tak pernah sekalipum ia meninggalkan sholat berjama’ah. Suatu pagi entah karena alasan apa dia telat bangun dan akibatnya dia tidak mengikuti sholat jama’ah Subuh. Ketika ia terbangun dia melihat para jama’ah Subuh telah selesai sholat. dia sangat kecewa dan sedih. Untuk menebus kelalaiannya tidak sholat jama’ah dia berpuasa selama 2 bulan berturut-turtu. Dia berhasil menyelesaikan puasa itu. Setelah selesai puasa, selama satu bulan ia tidak pernah telat bangun dan ketinggalan jama’ah. Dia selalu bermimpi dibangunkan oleh  seorang laki-laki yang tidak dikenal. Entah sipa itu. Akhirnya dia menanyakan perihal sosok lelaki itu pada seorang Syeikh imam masjid. Dia menceritakan kejadian dari awal sampai akhir. Seorang syeikh itu terdiam sejenak dan berfikir. Sesaat kemudian dia mengatakan bahwa sosok lelaki yang selalu membangunkannya sholat adalah setan.
Mungkin kita bingung kenapa justru yang membangunkan adalah setan? Mengapa bukan malaikat? Mari kita tinjau ulang cerita di atas. Apa yang dilakukan oleh pemuda itu ketika tidak mengikuti jama’ah subuh? Dia berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Kita tahu bahwa puasa adalah salah satu ibadah yang dapat menahan kita dari hawa nafsu ketika seseorng berpuasa dia dapat mengenalkn hawa nafsunya. Dan seseorang yang berpuasa dengan benar maka setanpun tak akan mampu untuk menggodanya. Hal inilah yang menyebabkan setan selalu membangunkannya untuk sholat jama’ah. Setan tidak rela jika pemuda it uterus berpuasa karena peluang bagi setan untuk menggodanya sangat kecil. Sedang ketika ia tidak berpuasa ia lebih mudahmenggodanya.
Maka dari itu, di bulan yang baik ini mari kita tingkatkan kekhusyu’an ibadah puasa kita sehingga setan benar-benar tidak mampu menembus benteng pertahanan iman kita.